EdukasiHumaniora

Gelar Pelatihan di UMN, Guru PAI Dibekali Metode Hypnoteaching hingga Deep Learning

235
×

Gelar Pelatihan di UMN, Guru PAI Dibekali Metode Hypnoteaching hingga Deep Learning

Sebarkan artikel ini

MEDIASUKABUMI – Dalam upaya mendongkrak kompetensi dan menghadirkan proses belajar mengajar yang lebih inovatif, humanis, serta berpusat pada peserta didik, pelatihan intensif bagi para Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) sukses digelar.

Kegiatan tersebut berlangsung pada Senen (15/6) kemarin di kampus Universitas Madani Nusantara (UMN). Acara ini menghadirkan tiga narasumber nasional yang kompeten di bidangnya masing-masing untuk memberikan penyegaran metodologi pembelajaran modern.

Sentuh Hati Siswa Lewat Metode Hypnoteaching

Pada sesi pertama, materi dikupas tuntas oleh **Dr. Azi Khoirurrahman, M.Pd., M.M., M.A.B., M.Psi., CT.NLP**, seorang pakar *Hypnoteaching* sekaligus Direktur Hagia Consulting. Mengangkat tema *”Peningkatan Kompetensi Guru PAI melalui Hypnoteaching,”* International Certified NLP Trainer (NFNLP Florida, USA) ini meluruskan miskonsepsi mengenai hipnosis dalam dunia pendidikan.

“Hypnoteaching bukanlah tentang menghipnotis siswa agar pingsan atau tidak sadar, melainkan seni memimpin pikiran siswa menuju kondisi terbaik untuk belajar, berubah, dan berkembang menggunakan komunikasi bawah sadar,” ujar Dr. Azi.

Ia memaparkan lima tahapan kunci (PAKSC) yang dirangkum dalam prinsip “Sentuh Hatinya, Pahami Dunianya, Bimbing Akhlak dan Ilmunya”:

  1. Persiapan: Guru wajib mempersiapkan diri sebelum masuk kelas (niat tulus, hati bersih, pikiran jernih, motivasi canggih, fisik gigih, dan RPP yang rapi).
  2. Akrabkan (Rapport): Membangun kedekatan lewat 8 langkah mudah (senyum-salam-sapa, kenali nama, ramah, bermain/bercanda, beri perhatian, kenali karakter, aktif mendengar, dan nyamankan suasana).
  3. Arahkan: Memandu siswa ke tujuan belajar dengan teknik Pacing and Leading (menyelaraskan postur/emosi lalu mengarahkan fokus), serta memahami 4 karakter siswa (koleris, sanguinis, plegmatis, melankolis) dan 3 gaya belajar (visual, auditori, kinestetik).
  4. Sugestikan: Menggunakan kalimat positif untuk memotivasi dan menguatkan rasa percaya diri siswa.
  5. Contohkan: Memberikan keteladanan (uswah) nyata melalui sikap, ucapan, dan tindakan sehari-hari.

Transformasi Deep Learning dan Komunikasi Efektif

Memasuki sesi kedua di kampus UMN, Dr. Hj. Wiwin Winarni, M.M.Pd. hadir memaparkan materi mengenai Deep Learning (Pembelajaran Mendalam). Dalam penyampaiannya, Dr. Wiwin menekankan pentingnya guru bergeser dari sekadar melakukan transfer pengetahuan (transfer of knowledge) menuju proses belajar yang bermakna.

Menurutnya, guru dituntut mampu merancang pembelajaran yang memicu siswa untuk berpikir kritis, kreatif, solutif terhadap masalah, cakap berkolaborasi, serta mampu merefleksikan ilmu tersebut agar dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.

Sesi terakhir ditutup dengan materi Komunikasi Efektif yang disampaikan oleh Dr. Ir. Dana Budiman, M.Si. Ia menggarisbawahi bahwa kemampuan berkomunikasi adalah kompetensi mutlak bagi guru demi membangun interaksi positif di kelas. Guru harus mampu menyampaikan pesan dengan jelas, mendengarkan secara aktif, memberikan umpan balik (feedback) konstruktif, serta membangun komunikasi empatik demi terciptanya kelas yang partisipatif.

Sinergi Menuju Pembelajaran Inovatif

Melalui kombinasi tiga pilar materi ini—Hypnoteaching, Deep Learning, dan Komunikasi Efektif — para peserta yang hadir di Universitas Madani Nusantara diharapkan tidak hanya membawa pulang teori, melainkan kesiapan mental dan taktis untuk diterapkan di sekolah masing-masing.

Sinergi ketiga metode ini diyakini mampu memperkuat kompetensi guru PAI dalam menghadirkan atmosfer pembelajaran yang tidak hanya inovatif dan humanis, tetapi juga berdampak signifikan pada peningkatan kualitas serta capaian hasil belajar para peserta didik secara optimal.

Tinggalkan Balasan