Lifestyle

Rumah Baru Iis dari Bupati Sukabumi

47
×

Rumah Baru Iis dari Bupati Sukabumi

Sebarkan artikel ini
Rumah layak huni untuk Iis dari Bupati Sukabumi

MEDIA SUKABUMI – Wajah bahagia tak bisa disembunyikan dari raut Iis (43), seorang ibu dua anak asal Desa Citepus, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Setelah bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan di sebuah gubuk reyot di lereng Gunung Tangkil, akhirnya Iis kini bisa menempati rumah layak huni yang dilengkapi fasilitas dasar, termasuk penerangan listrik.

Kondisi Iis sebelumnya sungguh memprihatinkan. Ia dan dua anaknya tinggal di sebuah bilik bambu berukuran hanya 2 x 2 meter. Atap rumah seadanya terbuat dari seng berkarat dan genteng tua, dinding hanya ditutupi karung bekas, dan tanpa aliran listrik. Setiap malam mereka hanya ditemani nyala redup lampu minyak dan tidur bertiga di atas kasur tipis beralaskan terpal biru.

Kini, kehidupan mereka berubah. Rumah baru berukuran 5 x 6 meter telah dibangun dan diresmikan langsung oleh Bupati Sukabumi, Asep Japar, bersama jajaran DPRD Kabupaten Sukabumi, camat, kepala desa, dan perwakilan masyarakat setempat, Senin (22/9/2025).

“Alhamdulillah, hari ini Ibu Iis yang sebelumnya tinggal di tempat tidak layak, kini bisa menempati rumah yang jauh lebih baik. Ini adalah hasil kepedulian bersama antara pemerintah dan masyarakat,” ujar Bupati Asep Japar saat peresmian.

Ia menegaskan bahwa pada peringatan Hari Jadi Kabupaten Sukabumi (HJKS) ke-155 tahun ini, fokus pembangunan digeser ke arah sosial. “Kita ingin memastikan masyarakat yang benar-benar membutuhkan bisa segera tertangani,” tegasnya.

Kisah Perjuangan Hidup Iis

Sebelum mendapat bantuan, Iis mengungkapkan bahwa dirinya sempat memiliki rumah di Desa Ridogalih, Kecamatan Cikakak. Namun, rumah itu dijual oleh mantan suaminya saat ia sedang merantau bekerja di Jakarta. Sepulangnya, Iis tak lagi memiliki apa-apa dan harus mengungsi ke tengah kebun karet di Gunung Tangkil.

Untuk bertahan hidup, Iis bekerja sebagai buruh penyadap karet dengan penghasilan yang tak menentu. Kadang hanya mendapat Rp300–400 ribu sebulan, bahkan sering tak ada hasil sama sekali. Kedua anaknya hidup dalam kondisi serba kekurangan. Anak sulungnya terpaksa putus sekolah karena tak ada biaya, sementara si bungsu yang masih balita tetap ia rawat sendiri.

“Boro-boro buat sekolah, untuk makan sehari-hari saja kadang bingung. Mandi, minum, dan buang air kami lakukan di sungai. Tapi saya tetap ingin bertahan dan membesarkan anak-anak saya,” ungkap Iis sambil menahan haru.

Respon Cepat Pemerintah dan Kemensos

Kondisi memilukan ini akhirnya sampai ke telinga Kementerian Sosial melalui Sentra Phalamarta. Setelah dilakukan asesmen langsung oleh tim penyuluh sosial, pemerintah daerah bersama Kemensos bergerak cepat.

Abdul Karim Syauqi, penyuluh sosial ahli muda dari Sentra Phalamarta, mengatakan bahwa pihaknya telah meninjau langsung kondisi gubuk Iis yang sangat tidak layak.

“Tidak ada MCK, tidak ada listrik, masak pakai tungku. Anaknya tidur dalam kegelapan. Ini sudah kita laporkan dan langsung ditindaklanjuti dengan bantuan hunian dan kebutuhan dasar,” jelasnya.

Anak sulung Iis yang sempat putus sekolah pun mendapat perhatian khusus. Rencananya, ia akan difasilitasi melanjutkan pendidikan lewat program Paket C hingga jenjang SMA.

Bukti Nyata Kolaborasi

Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi, Junajah Jajah Nurdiansyah dari Fraksi PDIP, mengapresiasi respons cepat semua pihak. Ia menyebut ini adalah contoh nyata kolaborasi antara warga, pemerintah desa, kecamatan, hingga kabupaten.

“Begitu laporan masuk lewat Pak Kades dan Camat, langsung direspons. Inilah bentuk nyata kepedulian kita terhadap sesama,” ujarnya.

Kini, Iis dan anak-anaknya tak lagi hidup dalam gelap dan dinginnya malam di gubuk reyot. Rumah baru itu menjadi simbol harapan dan awal kehidupan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan