MEDIASUKABUMI – Takut mobil listrik kehabisan baterai di tengah perjalanan? Kekhawatiran itu perlahan mulai terjawab. Memasuki 2026, produsen kendaraan listrik semakin agresif mengembangkan baterai berkapasitas besar, sistem pengisian cepat, dan teknologi manajemen energi yang membuat mobil listrik mampu menempuh jarak lebih jauh.
Tren tersebut terlihat dari munculnya berbagai model baru dengan kapasitas baterai puluhan hingga lebih dari 100 kWh. Namun, konsumen perlu berhati-hati ketika membandingkan angka jarak tempuh karena setiap produsen dapat menggunakan standar pengujian yang berbeda.
Baterai Jumbo Jadi Tren Mobil Listrik
Kapasitas baterai menjadi salah satu faktor utama yang menentukan jarak tempuh mobil listrik. Semakin besar kapasitas baterai, secara umum semakin banyak energi yang tersedia untuk perjalanan.
Salah satu contoh terbaru datang dari BYD Song Ultra EV. Model ini diperkenalkan di China dengan pilihan baterai 68,4 kWh dan 82,7 kWh. Varian dengan baterai terbesar diklaim mampu mencapai jarak tempuh hingga 710 km berdasarkan standar CLTC.
Selain baterai besar, BYD mengandalkan teknologi Short Blade Battery 2.0 dan sistem pengisian cepat. Teknologi tersebut diklaim mampu meningkatkan kecepatan pengisian sehingga waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan jauh dapat ditekan.
Perkembangan ini memperlihatkan bahwa produsen tidak lagi hanya berlomba membuat baterai berkapasitas besar. Kecepatan pengisian juga menjadi bagian penting dalam persaingan kendaraan listrik.
MG S5 EV Tempuh hingga 545 Km
Di Indonesia, salah satu mobil listrik yang menawarkan jarak tempuh panjang adalah MG S5 EV Magnify Max.
SUV listrik tersebut memiliki klaim jarak tempuh hingga 545 km dan pada 2026 dipasarkan dengan harga Rp399,9 juta. Kombinasi harga dan jarak tempuh tersebut membuat MG S5 EV menjadi salah satu pilihan yang menarik di segmennya.
Sales Director MG Motor Indonesia Agustian Ferikles menilai jarak tempuh menjadi salah satu pertimbangan konsumen ketika memilih kendaraan listrik.
“Masyarakat membutuhkan kendaraan listrik dengan jarak tempuh yang lebih panjang tanpa harus mengorbankan kenyamanan.”
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan mobil listrik tidak hanya soal kapasitas baterai, tetapi juga bagaimana kendaraan dapat memberikan pengalaman penggunaan yang praktis.
Jangan Samakan Angka CLTC, NEDC, dan WLTP
Ini bagian penting yang sering terlewat ketika membandingkan mobil listrik.
Angka jarak tempuh yang ditampilkan produsen tidak selalu menggunakan standar pengujian yang sama. Beberapa kendaraan menggunakan CLTC, sebagian menggunakan NEDC, sedangkan pasar tertentu lebih banyak menggunakan WLTP.
CLTC merupakan standar pengujian yang digunakan di China. Sementara itu, NEDC merupakan metode pengujian lama yang dikenal memberikan angka relatif optimistis. WLTP dirancang untuk mencerminkan kondisi berkendara yang lebih realistis dibandingkan NEDC.
Artinya, 710 km CLTC tidak boleh langsung dianggap lebih jauh daripada 600 km WLTP tanpa memahami metode pengujiannya.
Perbedaan tersebut penting karena angka resmi laboratorium dapat berubah ketika kendaraan digunakan dalam kondisi nyata. Kecepatan, temperatur, gaya berkendara, penggunaan AC, beban kendaraan, kondisi jalan, hingga medan perjalanan dapat memengaruhi konsumsi energi.
Karena itu, konsumen sebaiknya membandingkan jarak tempuh kendaraan berdasarkan standar pengujian yang sama.
CATL Kembangkan Baterai hingga 125 kWh
Perkembangan teknologi baterai juga semakin agresif. CATL memperkenalkan teknologi baterai generasi terbaru dengan kapasitas hingga 125 kWh.
Teknologi tersebut diklaim memiliki potensi memungkinkan kendaraan menempuh setidaknya 1.000 km dalam kondisi pengujian tertentu. CATL juga menyoroti kemampuan pengisian daya berkecepatan tinggi sebagai bagian dari teknologi baterai generasi baru.
Namun, angka 1.000 km tersebut sebaiknya dipahami sebagai klaim atau potensi teknologi, bukan standar yang otomatis dapat dicapai semua mobil listrik di jalan raya.
“The battery pack can deliver over 1,000 km of range.” CATL menjelaskan kemampuan teknologi baterai generasi tersebut dalam pengumuman produknya.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa produsen baterai mulai mengejar dua target sekaligus: kapasitas besar dan pengisian sangat cepat.
Chery Dorong Teknologi Solid-State
Teknologi baterai solid-state juga menjadi salah satu perkembangan yang menarik perhatian industri.
Chery mengembangkan baterai dengan kepadatan energi tinggi yang berpotensi meningkatkan jarak tempuh kendaraan listrik tanpa harus menambah kapasitas baterai secara berlebihan.
Dalam laporan mengenai teknologi tersebut, Chery menyebut target pengembangan baterai solid-state dengan kepadatan energi hingga 600 Wh/kg dan potensi jarak tempuh lebih dari 1.500 km. Namun, angka tersebut merupakan target pengembangan teknologi dan belum bisa disamakan dengan kemampuan mobil listrik produksi massal yang tersedia saat ini.
Artinya, masa depan mobil listrik kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh ukuran baterai, tetapi juga oleh kepadatan energi dan efisiensi sistem baterai.
Fast Charging Sama Pentingnya
Baterai besar memang memberikan jarak tempuh panjang, tetapi kemampuan pengisian cepat tidak kalah penting.
Bayangkan sebuah mobil mampu menempuh 700 km, tetapi membutuhkan waktu sangat lama untuk mengisi baterainya. Dalam perjalanan jauh, kondisi tersebut dapat mengurangi kepraktisan kendaraan.
Sebaliknya, mobil dengan jarak tempuh sedikit lebih pendek tetapi mampu mengisi energi dalam waktu singkat dapat menjadi pilihan yang lebih praktis.
Karena itu, konsumen perlu melihat tiga faktor secara bersamaan:
Kapasitas Baterai
Kapasitas dalam kWh menunjukkan seberapa banyak energi yang dapat disimpan baterai.
Jarak Tempuh
Jangan hanya melihat angka terbesar. Periksa standar pengujian yang digunakan dan bandingkan dengan model lain menggunakan standar yang sama.
Kecepatan Charging
Perhatikan kemampuan DC fast charging dan waktu yang diperlukan untuk mengisi baterai pada rentang tertentu, bukan hanya kapasitas baterainya.
Infrastruktur SPKLU Tetap Menjadi Kunci
Jarak tempuh panjang akan semakin berguna jika didukung infrastruktur pengisian yang memadai.
Di Indonesia, perkembangan SPKLU menjadi bagian penting dari ekosistem kendaraan listrik. Konsumen yang sering melakukan perjalanan antarkota perlu mengetahui lokasi SPKLU di sepanjang rute sebelum membeli kendaraan listrik.
Dengan semakin banyaknya fasilitas pengisian, kekhawatiran mengenai range anxiety atau kecemasan kehabisan daya dapat berkurang.
Mobil listrik terbaru 2026 semakin serius menjawab kekhawatiran soal jarak tempuh. Baterai berkapasitas besar, teknologi fast charging, serta pengembangan baterai generasi baru menjadi fokus utama industri.
BYD Song Ultra EV menawarkan klaim hingga 710 km berdasarkan CLTC, sementara MG S5 EV Magnify Max di Indonesia memiliki klaim hingga 545 km. Di sisi teknologi masa depan, CATL mengembangkan baterai 125 kWh dengan potensi jarak tempuh lebih dari 1.000 km.
Namun, angka jarak tempuh tidak boleh dibandingkan secara sembarangan. CLTC, NEDC, dan WLTP memiliki metode pengujian berbeda sehingga hasilnya tidak bisa dianggap setara. Untuk perbandingan yang lebih adil, gunakan kendaraan yang diuji menggunakan standar yang sama.
Pada akhirnya, mobil listrik terbaik bukan selalu yang memiliki angka jarak tempuh paling tinggi. Kapasitas baterai, efisiensi, kecepatan charging, harga, garansi, serta ketersediaan SPKLU sama-sama menentukan kenyamanan penggunaan sehari-hari.
Menurut Anda, mana yang lebih penting: mobil listrik dengan baterai jumbo atau teknologi fast charging supercepat? Tulis pendapat Anda di kolom komentar dan bagikan artikel ini kepada teman yang sedang mencari mobil listrik terbaru!











