MEDIASUKABUMI.ID – Implementasi kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) kini telah merambah berbagai sektor strategis, mulai dari pertanian, transportasi, energi, hingga kesehatan. Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, AI juga menyimpan tantangan riset yang luas serta tanggung jawab etika yang besar, terutama bagi kalangan mahasiswa sebagai generasi pengguna dan pengembang masa depan.
Hal tersebut disampaikan Peneliti Ahli Utama dari Pusat Riset Kecerdasan Artifisial dan Keamanan Siber (PRKAKS) BRIN, Prof. Hilman Ferdinandus Pardede, saat menerima kunjungan ilmiah mahasiswa Program Studi Sistem Informasi dan Elektro Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Samaun Samadikun, Bandung, Selasa (6/1).
Dalam paparannya bertajuk “Mengenal Artificial Intelligence dan Penelitian AI”, Hilman menjelaskan bahwa meskipun AI mampu meningkatkan efisiensi melalui otomatisasi dan penyederhanaan berbagai tugas, penguasaan konsep dasar tetap menjadi hal yang krusial.
“AI sangat membantu di berbagai bidang, tetapi penggunaannya harus dilakukan secara bijak. Tanpa pemahaman yang tepat, AI berpotensi menimbulkan miskomunikasi, bias, hingga kesalahan. Karena itu, penguasaan konsep dan etika penggunaan AI menjadi sangat penting,” ujarnya.
Hilman juga memaparkan evolusi dan klasifikasi teknologi AI. Menurutnya, AI saat ini masih berada pada tahap Artificial Narrow Intelligence (ANI), yakni kecerdasan buatan yang dirancang untuk menjalankan tugas-tugas spesifik berbasis data dan respons tertentu, namun belum mampu berpikir secara mandiri.
Ke depan, AI diproyeksikan berkembang menuju Artificial General Intelligence (AGI), yaitu teknologi yang mampu meniru kemampuan kognitif manusia secara lebih menyeluruh. Bahkan, terdapat pula konsep Artificial Super Intelligence (ASI) yang diprediksi akan melampaui kemampuan intelektual manusia.
Ia menambahkan bahwa AI merupakan payung besar yang mencakup Machine Learning (ML) dan Deep Learning (DL). ML berfokus pada pengembangan algoritma untuk mengenali pola dalam data, sedangkan DL menggunakan jaringan saraf tiruan berlapis yang mampu mengolah data kompleks seperti suara dan gambar, dengan kebutuhan komputasi yang tinggi.
Dalam kesempatan tersebut, Hilman juga mengungkap sejumlah tantangan riset AI yang masih terbuka lebar untuk dikaji oleh peneliti muda, di antaranya keterbatasan data, ketidakseimbangan data, serta persoalan data berdimensi tinggi. Selain itu, tantangan lain meliputi ukuran model yang besar, isu ketahanan sistem, hingga keterbatasan sumber daya manusia yang memiliki keahlian di bidang AI.
“Tantangan-tantangan tersebut justru menjadi peluang penelitian yang sangat potensial bagi mahasiswa, mulai dari pengembangan model yang lebih ringkas hingga perancangan arsitektur deep learning baru,” jelasnya.
Sebagai penutup, Hilman berpesan agar mahasiswa tidak menjadikan AI sebagai pengganti proses berpikir. Menurutnya, AI seharusnya dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk belajar dan memahami konsep, bukan untuk mengerjakan seluruh tugas secara otomatis.
“Jadikan AI sebagai pendukung pembelajaran, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir kritis. Terus tingkatkan pengetahuan dan keterampilan secara mandiri,” pungkasnya.
Sumber : brin.go.id



