Sukabumi Pedia

KH. Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab (Pangersa Uwa):

6
×

KH. Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab (Pangersa Uwa):

Sebarkan artikel ini

MEDIASUKABUMI.ID – KH. Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab, yang akrab disapa Pangersa Uwa atau Ajengan Zezen, lahir pada 17 Februari 1955 di Kampung Nagrog Sinar Barokah, Desa Perbawati (dahulu Desa Karawang), Sukabumi. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Zayadi dan Hj. Halimah. Dari garis keturunan ibunya, beliau merupakan dzurriyah dari Sunan Gunung Djati, yang nasabnya bersambung hingga Rasulullah SAW. Lingkungan keluarga yang religius membentuk fondasi kepribadian dan keilmuan beliau sejak usia dini. Semasa kecil, beliau akrab dipanggil “Utun” dan tumbuh dalam didikan agama yang ketat, terutama dalam penguasaan Al-Qur’an, tajwid, dan imla, langsung dari sang ayah yang dikenal sebagai ahli ilmu tajwid.

Perjalanan intelektualnya dimulai dari pendidikan dasar sambil belajar kepada kakeknya, KH. Abdurrohman. Setelah menamatkan Sekolah Rakyat, beliau melanjutkan pendidikan ke Pesantren Pabuaran, kemudian menempuh pendidikan MTs dan MA di Pesantren Sirojul Athfal (kini Al-Masthuriyah) Tipar Cisaat Sukabumi. Di sinilah jiwa organisasinya mulai tumbuh, menjadi bekal penting dalam perjuangan dakwahnya kelak. Beliau kemudian berguru kepada sejumlah ulama besar di Sukabumi, Cianjur, Garut, dan Ciamis, memperdalam berbagai disiplin ilmu seperti fiqih, tauhid, tasawuf, ushul fiqh, balaghah, hingga musthalah hadits. Ketekunan dan keluasan ilmunya membuat beliau dijuluki “Abuy Bulagho” karena kepakarannya dalam ilmu balaghah.

Perjalanan spiritualnya semakin matang ketika bersentuhan dengan dunia tarekat. Pada tahun 1985, beliau berziarah ke Pesantren Suryalaya Tasikmalaya dan kemudian berguru kepada Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin (Abah Anom). Setelah mengamalkan berbagai tarekat seperti Mufaridiyyah, Anfasiyah, Rifa’iyyah, dan Tijaniyyah, beliau akhirnya mendalami dan mengamalkan Tarekat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN) Suryalaya. Kepercayaan besar diberikan kepadanya untuk mengisi mimbar kehormatan Abah Anom selama 12 tahun, serta diangkat menjadi wakil talqin TQN pada tahun 1994. Dari gurunya itulah beliau memperoleh gelar “Bazul Asyhab”.

Pada tahun 1978, sepulang dari pengembaraan ilmunya, beliau mendirikan Pondok Pesantren Darul Falah yang kemudian berkembang menjadi Pesantren Darurrohman dan akhirnya dikenal sebagai Pesantren Azzainiyyah. Lembaga ini tidak hanya menyelenggarakan pendidikan salafiyah, tetapi juga pendidikan formal dari tingkat RA hingga perguruan tinggi bekerja sama dengan STAI Sukabumi. Dari kampung kecil di lereng pegunungan Nagrog, beliau membangun pusat peradaban ilmu yang melahirkan ratusan bahkan ribuan santri.

Kiprah dakwahnya tidak berhenti di ranah pendidikan. Beliau aktif memimpin berbagai organisasi keagamaan dan dipercaya menjadi Ketua Umum MUI Kabupaten Sukabumi hingga wafat. Dalam skala yang lebih luas, beliau menggagas gerakan Penegakan Syariat Islam (PSI) di Kabupaten Sukabumi yang dideklarasikan pada 24 Maret 2002. Konsep PSI yang beliau usung bukan berbentuk perda formal, melainkan gerakan moral dan spiritual: “Penegakan Syariat Islam melalui Pelaksanaan Rukun Islam secara Benar dan Sungguh-sungguh.” Gagasan ini kemudian diterima dalam Musyawarah Nasional MUI tahun 2010 dan menjadi gerakan nasional pengamalan ajaran Islam, khususnya Rukun Islam, secara benar dan sungguh-sungguh.

Beliau juga menggagas gerakan IQOMAH (Ikatan Penggerak Qoryah Mubarokah) sebagai implementasi praktis PSI, yang mendapat dukungan luas hingga tingkat Provinsi Jawa Barat. Dakwahnya bersifat kolaboratif, merangkul ulama, ormas Islam, dan pemerintah. Dalam pandangannya, keterpurukan bangsa bersumber dari dua hal: “otak tumpul dan doa mandul.” Karena itu, solusi yang beliau tawarkan adalah penguatan ilmu dan kebangkitan spiritual umat.

Sebagai pribadi, Pangersa Uwa dikenal kharismatik namun rendah hati. Tegas dalam prinsip, tetapi lembut dalam pendekatan. Beliau tidak menyukai sikap meremehkan agama dan sangat menjunjung tinggi persatuan umat. Meski berakar kuat dalam tradisi Nahdlatul Ulama dan Ahlussunnah wal Jama’ah, beliau tetap terbuka dan menghargai berbagai gerakan dakwah lain, selama berada dalam koridor syariat.

Beliau wafat pada Kamis, 19 November 2015 (7 Shafar 1437 H). Kepergiannya menjadi duka mendalam bagi umat Islam, khususnya masyarakat Sukabumi. Namun warisan perjuangannya tetap hidup melalui pesantren, organisasi, keluarga, dan ribuan murid yang melanjutkan estafet dakwah.

Dalam wasiatnya, beliau menekankan pentingnya menjaga iman dan takwa, melaksanakan ibadah wajib dan sunnah, taat kepada pemerintah dalam perkara yang tidak bertentangan dengan agama, menjaga persatuan, serta melanjutkan perjuangan dakwah sesuai kemampuan masing-masing. Wasiat tersebut menjadi penegas bahwa perjuangan sejati bukan sekadar membangun institusi, tetapi membangun hati dan peradaban.

KH. Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab bukan sekadar seorang ulama lokal, melainkan sosok mujaddid yang menghadirkan dakwah berbasis ilmu, tasawuf, dan gerakan sosial yang terstruktur. Dari Nagrog Sinar Barokah, cahaya perjuangannya menerangi Sukabumi dan menginspirasi gerakan kebangkitan umat di tingkat nasional.

Sumber : azzainiyyah.sch.id
DR. Ramdan Fawzi. 2016. “Dari Salik Menuju Sang Kholiq” Sekelumit Sejarah, Pemikiran dan Amaliyah KH. ZEZEN ZA Bazul Asyhab (Pangersa Uwa).

Tinggalkan Balasan