Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha (Warga Kota Sukabumi, yang tinggal di Jalan Samsi, Cisarua Kota Sukabumi)
Saya sering merasa, kota Sukabumi ini bukan sekadar tempat tinggal. Ia seperti bagian dari diri yang tidak pernah benar-benar selesai. Ia tumbuh, berubah, kadang membingungkan, tapi selalu memanggil untuk dipahami ulang. Kota Sukabumi bukan hanya ruang geografis. Ia adalah ingatan yang berjalan.
Saya lahir di sini. Tumbuh di jalan-jalan yang dulu terasa luas, meski sekarang terasa sempit. Menyaksikan perubahan pelan-pelan. Dari yang sederhana menjadi lebih ramai. Dari yang tenang menjadi lebih cepat. Tapi ada satu hal yang tetap, yaitu rasa bahwa kota ini selalu punya cara untuk membuat kita kembali berpikir tentang hidup.
Ketika membaca narasi tentang hari jadi ke-112 dan semangat kolaborasi itu, saya tidak hanya mendengar suara pemerintah. Saya seperti mendengar suara kota itu sendiri. Seolah Kota Sukabumi sedang berbicara kepada warganya, “Aku ini mau dibawa ke mana?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi tidak mudah dijawab.
Kita sering bicara tentang pembangunan. Tentang layanan, infrastruktur, kemajuan. Itu penting. Tapi kadang kita lupa bahwa kota juga butuh dirawat secara batin. Ia butuh kejujuran. Butuh kesadaran. Butuh rasa memiliki yang tidak dibuat-buat.
Kolaborasi yang disebut itu, bagi saya bukan sekadar kerja sama antar lembaga. Ia lebih dalam dari itu. Kolaborasi adalah kesediaan untuk tidak merasa paling benar. Kesediaan untuk mendengar. Kesediaan untuk berbagi peran tanpa saling meniadakan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kolaborasi itu sederhana. Warga yang tidak membuang sampah sembarangan. Pedagang yang jujur. Aparat yang tidak mempersulit. Anak muda yang memilih berkontribusi, bukan hanya mengkritik dari jauh. Hal-hal kecil seperti ini yang sebenarnya membentuk wajah kota.
Saya melihat ada upaya serius untuk memperbaiki layanan, termasuk di bidang kesehatan. Itu patut dihargai. Tapi kita juga perlu bertanya, apakah kemajuan itu sudah menyentuh rasa keadilan? Apakah semua warga merasakan akses yang sama? Atau masih ada jarak antara yang dekat dengan kekuasaan dan yang jauh dari perhatian?
Di sinilah kota ini diuji. Bukan pada apa yang ditampilkan, tapi pada apa yang dirasakan. Sukabumi tidak perlu menjadi kota yang sempurna. Ia hanya perlu menjadi kota yang jujur. Jujur dalam melihat masalahnya. Jujur dalam mengakui kekurangannya. Dan jujur dalam melibatkan warganya.
Saya percaya, kota ini punya kekuatan yang sering tidak kita sadari. Kekuatan itu bukan pada gedung tinggi atau program besar. Tapi pada ketulusan warganya. Pada hubungan sosial yang masih bisa saling menyapa. Pada ruang-ruang kecil yang masih menyimpan kepedulian.
Kadang saya berpikir, mungkin yang paling kita butuhkan bukan hanya pembangunan fisik, tapi pembangunan kesadaran. Kesadaran bahwa kota ini bukan milik pemerintah. Bukan milik segelintir orang. Tapi milik kita bersama. Dan setiap kita punya peran, sekecil apapun.
Dalam perspektif yang lebih dalam, kota adalah cermin dari batin kolektif warganya. Jika warganya saling curiga, kota akan terasa keras. Jika warganya saling peduli, kota akan terasa hangat. Maka memperbaiki kota sebenarnya adalah memperbaiki cara kita hidup bersama.
Saya tidak ingin Kota Sukabumi menjadi kota yang kehilangan dirinya. Kota yang sibuk mengejar modernitas tapi lupa pada kemanusiaan. Kota yang terang secara fisik tapi gelap dalam keadilan. Itu bukan Sukabumi yang saya kenal.
Saya ingin Kota Sukabumi tetap menjadi kota yang punya rasa. Kota yang tidak hanya menyediakan fasilitas, tapi juga menghadirkan makna. Kota yang membuat orang tidak hanya datang, tapi juga ingin tinggal dan merawatnya.
Harapan saya mungkin terdengar sederhana. Tapi justru di situlah letak kekuatannya. Saya ingin melihat kota ini lebih adil. Lebih ramah. Lebih jujur. Dan lebih berani untuk berubah tanpa kehilangan akar.
Karena pada akhirnya, kita tidak hanya hidup di kota ini. Kita ikut membentuknya. Setiap pilihan, setiap sikap, setiap tindakan kita adalah bagian dari masa depan Sukabumi.Dan saya percaya, selama masih ada harapan yang dijaga dengan hati yang tidak selesai, kota Sukabumi tidak akan pernah kehilangan arah.
Dirgahayu Kota Sukabumi ke-112.







