Edukasi

Menguji Peran HMI Sebagai Agen Perubahan

20
×

Menguji Peran HMI Sebagai Agen Perubahan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

Narasi yang ditulis Moeflich Hasbullah menarik karena berani mengkritik HMI dari dalam. Namun jika diuji dengan data sejarah dan fakta empiris, beberapa bagian kuat, sebagian lain terlalu menyederhanakan persoalan. Kritik akademik perlu memisahkan antara fakta historis, persepsi publik, dan analisis normatif.

Pertama. Narasi “HMI menjadi monumen kenangan”

Fakta sejarah tidak sepenuhnya mendukung kesimpulan ini. HMI berdiri pada 5 Februari 1947 di Yogyakarta oleh Lafran Pane dan sejak awal dirancang sebagai organisasi kader, bukan sekadar organisasi massa. Tujuannya jelas. Membentuk insan akademis, pencipta, dan pengabdi yang bernafaskan Islam.

Artinya, identitas HMI sejak awal memang bukan hanya gerakan aksi, tetapi gerakan kaderisasi intelektual. Diskusi, latihan kepemimpinan, dan pendidikan politik menjadi inti gerakan organisasi.

Jika hari ini muncul kesan HMI menjadi organisasi nostalgia, itu lebih merupakan persepsi sosial tertentu. Secara faktual, organisasi ini masih aktif di hampir seluruh provinsi dan kampus besar di Indonesia. Milad HMI yang sudah melampaui tujuh dekade menunjukkan organisasi ini memiliki daya tahan institusional yang kuat dibanding banyak organisasi mahasiswa lain yang muncul lalu hilang.

Kedua. Kritik bahwa HMI lebih identik dengan karir politik

Pernyataan ini ada benarnya tetapi perlu konteks. Sejak awal, HMI memang menjadi “school of leadership” bagi elite nasional. Banyak tokoh negara berasal dari HMI. Di antaranya Jusuf Kalla, Mahfud MD, Amien Rais, serta intelektual seperti Nurcholish Madjid dan Azyumardi Azra.

Data ini menunjukkan bahwa jalur politik bukan penyimpangan baru. Ia bagian dari karakter organisasi sejak awal. Bahkan dalam sejarah reformasi 1998, banyak kader HMI terlibat dalam gerakan mahasiswa yang menumbangkan rezim Orde Baru.

Masalah sebenarnya bukan kader masuk politik. Masalah muncul ketika proses kaderisasi intelektual melemah. Jika kader langsung mengejar karir tanpa basis pemikiran, organisasi kehilangan kualitasnya.

Ketiga. Soal pudarnya diskursus intelektual.

Kritik ini sebagian didukung fakta perubahan kultur mahasiswa. Banyak penelitian tentang gerakan mahasiswa menunjukkan tren depolitisasi kampus sejak tahun 2000-an. Orientasi mahasiswa bergeser ke karir profesional dan ekonomi.

Namun fenomena ini tidak hanya terjadi pada HMI. Hampir semua organisasi mahasiswa mengalami penurunan intensitas diskursus ideologis. Artinya masalahnya bersifat struktural. Bukan hanya persoalan internal organisasi.

Faktor lain adalah perubahan ekosistem pengetahuan. Dulu diskursus mahasiswa terjadi melalui majalah kampus, buletin, dan forum diskusi panjang. Sekarang ruang itu digantikan media sosial yang lebih cepat tetapi lebih dangkal.

Keempat. Soal dominasi jaringan alumni

Narasi bahwa HMI didominasi jaringan kekuasaan alumni juga tidak sepenuhnya tepat. Memang alumni HMI sangat banyak di politik dan birokrasi. Hal ini bahkan melahirkan organisasi alumni bernama KAHMI sejak tahun 1966.

Namun jaringan alumni ini sebenarnya modal sosial besar. Dalam teori organisasi, jaringan alumni kuat justru menjadi indikator keberhasilan kaderisasi. Masalah muncul jika hubungan alumni dengan kader hanya bersifat patronase politik, bukan mentoring intelektual.

Kelima. Soal tantangan era digital.Di bagian ini analisis Moeflich relatif kuat

Ekosistem pertarungan ide memang berubah. Media sosial menjadi arena utama pembentukan opini publik.

Namun ada data penting. Studi komunikasi digital menunjukkan bahwa algoritma media sosial lebih mendorong konten emosional dibanding analisis rasional. Ini berarti organisasi intelektual menghadapi dilema. Jika mengikuti logika algoritma, kualitas gagasan bisa turun. Jika tetap mempertahankan kedalaman intelektual, jangkauan publik bisa terbatas.

Karena itu strategi organisasi tidak cukup hanya “aktif di media sosial”. Yang lebih penting adalah membangun produksi pengetahuan yang kredibel lalu menerjemahkannya dalam berbagai format komunikasi.

Keenam. Soal relevansi sosial

Kritik bahwa organisasi mahasiswa harus kembali menyentuh masalah masyarakat juga memiliki dasar kuat. Data sosial Indonesia menunjukkan banyak persoalan struktural masih besar. Misalnya tingkat pengangguran lulusan pendidikan tinggi masih sekitar 5 persen lebih.

Fakta ini menunjukkan bahwa masalah pendidikan, ketimpangan sosial, dan kesempatan kerja masih nyata. Jika organisasi mahasiswa tidak terlibat dalam isu ini, mereka memang berisiko kehilangan relevansi sosial.

Ketujuh. Catatan kritis terhadap tulisan Moeflich

Ada tiga kelemahan dalam narasi tersebut.

  • Pertama, terlalu menggeneralisasi kondisi HMI nasional. Padahal dinamika organisasi berbeda di setiap cabang dan kampus.
  • Kedua, tidak membedakan antara krisis organisasi mahasiswa secara umum dengan krisis khusus HMI.
  • Ketiga, tidak menyertakan data empiris tentang penurunan aktivitas intelektual atau kaderisasi.

Tanpa data semacam itu, kritik cenderung menjadi opini normatif.

Kesimpulan faktualnya lebih seimbang. HMI memang menghadapi tantangan serius. Tradisi intelektual perlu diperkuat kembali. Adaptasi terhadap media digital juga penting.

Namun data sejarah menunjukkan organisasi ini masih memiliki tiga modal besar. Tradisi kaderisasi, jaringan alumni nasional, dan legitimasi sejarah dalam perjalanan bangsa.

Organisasi yang memiliki tiga modal ini biasanya tidak mudah menjadi “monumen kenangan”. Yang menentukan adalah apakah generasi kader sekarang mampu mengubah modal sejarah itu menjadi energi intelektual baru untuk menjawab persoalan zaman.

editor : D. Irpan Apriandi

Tinggalkan Balasan