Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Ada tulisan dengan narasi serius di Group KB HMI Sukabumi di hari Rabu, 07 April 2026. Tepatnya pukul 19.29, ada anggota Group WA posting satu tulisan. Judulnya: Retaknya “RUH” Perjuangan: Menakar Sunyinya HMI Sukabumi di Ambang Dualisme. Setelah saya baca tuntas, barulah saya tahu. Ada tulisan di akhir pesan tersebut, Jainal sidik belum visioner. Jika tidak salah yang bersangkutan adalah kader yg pernah mengemban amanah sebagai ketua Umum HMI cabang Sukabumi.
Saya bersyukur, masih ada kader yang gelisah dengan keadaan HMI Sukabumi. Semoga masuk golonganku, kata Rasulullah, jika ada di antara umatku, yang masih memikirkan ummat ini walaupun memerlukan catatan kritis juga.
Saya membaca kegelisahan itu bukan sebagai tanda kemunduran, tapi sebagai tanda masih adanya kepedulian. Tidak semua orang gelisah. Tidak semua orang peduli. Dan justru di titik itu, saya melihat harapan.
Tulisan Jainal Sidik seperti alarm yang berbunyi pelan. Ia tidak meledak, tapi cukup untuk menyadarkan bahwa ada sesuatu yang perlu dibenahi dalam tubuh Himpunan Mahasiswa Islam, khususnya di Sukabumi. Namun, alih-alih melihatnya sebagai “retaknya ruh perjuangan”, saya justru melihatnya sebagai fase jeda. Fase yang sering terjadi dalam organisasi besar yang sedang mencari bentuk baru.
Kita perlu jujur bahwa setiap zaman punya tantangannya sendiri. Dulu, dinamika HMI tumbuh dari ruang-ruang fisik. Diskusi panjang, forum kader, debat ideologis. Hari ini, ruang itu berubah. Tidak hilang, tapi bergeser. Sebagian pindah ke ruang digital. Sebagian lagi mengecil, lebih sunyi, lebih personal.
Masalahnya bukan semata pada kader yang dianggap pasif. Bisa jadi, organisasi belum sepenuhnya mampu membaca perubahan ini. Ketika pola lama dipertahankan tanpa adaptasi, maka yang muncul adalah kesan stagnasi. Padahal, di bawah permukaan, potensi tetap ada.
Generasi hari ini sering dituduh instan. Tapi kita lupa, mereka juga generasi yang cepat belajar, adaptif, dan punya akses luas terhadap pengetahuan. Jika diarahkan dengan tepat, mereka bisa melahirkan bentuk perjuangan yang berbeda, bukan lebih lemah, tapi lebih relevan dengan zamannya.
Di titik ini, kegelisahan Jainal menjadi penting. Ia mengingatkan bahwa HMI tidak boleh kehilangan tradisi intelektualnya. Tapi sekaligus, kegelisahan itu perlu diarahkan menjadi energi konstruktif. Bukan sekadar kritik, tapi dorongan untuk membangun.
Alih-alih bertanya “mengapa kader diam”, mungkin kita perlu mulai dari pertanyaan yang lebih produktif: ruang apa yang belum kita sediakan? Tradisi apa yang belum kita hidupkan kembali? Dan yang lebih penting, kontribusi apa yang bisa kita mulai dari sekarang, tanpa harus menunggu konflik selesai?
Sukabumi punya banyak isu nyata. Pendidikan, literasi, ekonomi umat, hingga problem sosial di tingkat akar rumput. Di sanalah seharusnya HMI hadir. Bukan hanya sebagai organisasi, tapi sebagai gerakan intelektual yang membumi.
Sunyi yang dirasakan hari ini bisa jadi bukan tanda kematian. Ia bisa menjadi ruang refleksi. Ruang untuk menyusun ulang arah. Ruang untuk melahirkan bentuk perjuangan yang lebih kontekstual.
Dan sejarah sering menunjukkan, organisasi besar tidak runtuh karena konflik. Ia runtuh ketika kehilangan kemampuan untuk beradaptasi dan kehilangan keberanian untuk memulai kembali.
Saya percaya, selama masih ada kader yang gelisah, HMI belum selesai. Tinggal satu langkah penting: mengubah kegelisahan itu menjadi kerja nyata. Bukan menunggu, tapi bergerak. Bukan mengeluh, tapi mencipta. Di situlah “ruh” itu sebenarnya tidak hilang. Ia hanya menunggu untuk dihidupkan kembali.
Dr. Mulyawan Ber-HMI sejak 1996 di Kabupaten Bandung, LK 1 (1996); LK II dan SC (1997); LK III (1999). Menseriusi pengkaderan sebagai instruktur NDP, dari Cabang, BADKO, s.d PB. Sesekali masih diminta kader sebagai pemateri NDP dan juga (sekalian) materinya. Masih merawat pengkaderan dari tingkatan Komisariat di Sukabumi dan masih tetap semangat ber-HMI walau dgn status alumni dan tanpa struktur dan jabatan strategis.






