Edukasi

Ramadhan dan Ujian di Detik Terakhir

17
×

Ramadhan dan Ujian di Detik Terakhir

Sebarkan artikel ini
Oleh : Mulyawan Safwandy Nugraha
Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi
Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Kota Sukabumi
Direktur Research and Literacy Institute (RLI)
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Setiap kali Ramadhan datang, suasananya selalu terasa istimewa. Hari-hari pertama biasanya penuh semangat. Masjid ramai. Orang berbondong-bondong datang untuk tarawih. Banyak yang membuat rencana ibadah. Ada yang ingin memperbanyak sedekah. Ada yang ingin rutin membaca Al-Qur’an. Ada juga yang berharap Ramadhan menjadi titik awal perubahan dalam hidupnya.

Awal Ramadhan sering terasa seperti halaman baru dalam hidup.

Namun perjalanan spiritual tidak berhenti di awal bulan. Justru tantangan muncul ketika Ramadhan mulai mendekati ujungnya. Saya sering melihat fenomena yang menarik. Di awal Ramadhan, shaf di masjid panjang dan padat. Tetapi semakin hari jumlah jamaah perlahan berkurang. Barisan shalat mulai maju. Masjid yang semula penuh terasa lebih lengang.

Fenomena ini seolah menggambarkan sifat manusia. Kita mudah bersemangat di awal, tetapi tidak selalu kuat menjaga ritme hingga akhir.

Dalam salah satu ceramahnya, Ammi Nur Baits mengingatkan sebuah prinsip sederhana. Dalam banyak ibadah, bagian akhir sering memiliki keistimewaan yang lebih besar. Sepertiga malam terakhir menjadi waktu yang paling mustajab untuk berdoa. Pada hari Jumat, waktu yang paling diharapkan adalah setelah Ashar. Dalam ibadah haji, puncak ibadah terjadi di Arafah.

Ramadhan pun memiliki pola yang sama. Sepuluh hari terakhir adalah puncaknya.

Pesan ini terasa sangat kuat. Karena sering kali manusia justru kehilangan tenaga ketika perjalanan hampir selesai. Padahal dalam banyak hal, penentuan kemenangan terjadi di garis akhir. Rasulullah bahkan mengingatkan bahwa nilai amal seseorang sangat ditentukan oleh bagaimana ia mengakhirinya.

Karena itu ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, Rasulullah justru meningkatkan ibadahnya. Malam-malam dihidupkan dengan shalat dan doa. Keluarga dibangunkan untuk ikut beribadah. Ini menunjukkan bahwa bagian akhir Ramadhan bukan waktu untuk menurunkan semangat, tetapi justru waktu untuk memperkuatnya.

Di titik ini saya sering merenung tentang makna puasa itu sendiri. Semua orang menjalani jumlah hari yang hampir sama. Tidak ada yang bisa menambah hari Ramadhan. Semua menjalani bulan yang sama panjangnya. Tetapi pengalaman spiritual setiap orang bisa sangat berbeda.

Ada orang yang menjalani puasa dengan penuh kesadaran. Siangnya digunakan untuk bekerja dan berbuat baik. Malamnya diisi dengan ibadah. Ada juga yang menjalani puasa sekadar sebagai rutinitas tahunan. Siang hari berlalu dengan aktivitas biasa. Malam hari tidak jauh berbeda dari hari lain.

Perbedaan ini menunjukkan satu hal penting. Yang membedakan ibadah bukan jumlahnya, tetapi kedalamannya. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Puasa adalah latihan mengendalikan diri. Latihan memperkuat kesadaran bahwa hidup tidak hanya tentang memenuhi kebutuhan fisik.

Sepuluh hari terakhir Ramadhan juga mengingatkan umat Islam pada satu malam yang sangat istimewa. Malam Lailatul Qadar. Malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Tidak ada yang tahu dengan pasti kapan malam itu datang. Karena itu umat Islam dianjurkan untuk menghidupkan malam-malam terakhir Ramadhan.

Cara melakukannya sebenarnya tidak harus terasa berat. Kadang cukup dengan mengurangi sedikit waktu tidur. Bangun lebih awal untuk shalat malam. Membaca Al-Qur’an beberapa halaman. Memperbanyak doa. Langkah kecil seperti ini sering membawa dampak besar dalam perjalanan spiritual seseorang.

Ada satu doa yang sangat dikenal untuk malam-malam terakhir Ramadhan. Doa ini diajarkan Rasulullah kepada Aisyah ketika ia bertanya tentang Lailatul Qadar. Isinya sangat singkat. Memohon agar Allah mengampuni dosa-dosa manusia.

Doa itu mengingatkan bahwa pada akhirnya manusia tidak hanya membutuhkan pahala. Manusia juga membutuhkan ampunan.

Ramadhan memberi kesempatan besar untuk memperbaiki hubungan dengan Allah. Sepuluh hari terakhir menjadi ruang terakhir sebelum bulan suci ini berlalu. Ia seperti garis akhir dalam sebuah perjalanan panjang.

Ramadhan sebenarnya sedang mengajarkan sesuatu tentang hidup. Banyak orang mampu memulai sesuatu dengan baik. Tetapi tidak semua mampu menutupnya dengan baik. Padahal sering kali kemenangan sejati justru ditentukan di bagian terakhir perjalanan.

_Wallahu a’lamu._

Editor : .D. IRPAN Apriandi

Tinggalkan Balasan