HumanioraOpini

Triharmoni vs Tradisi Konflik: Kita Sedang Membangun Jembatan atau Sekadar Mengecat Retakan?

13
×

Triharmoni vs Tradisi Konflik: Kita Sedang Membangun Jembatan atau Sekadar Mengecat Retakan?

Sebarkan artikel ini
Logo KNPI

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha (Dosen, Peneliti, Pegiat Literasi, Managing Editor Jurnal Harmoni) https://jurnalharmoni.kemenag.go.id/index.php/harmoni/about/editorialTeam

Ada ironi yang sering muncul dalam dunia organisasi pemuda. Setiap periode lahir gagasan baru. Setiap gagasan membawa semangat persatuan. Tetapi konflik lama tetap setia, seperti teman lama yang tidak pernah benar-benar pergi.

Ketika Kang Sudar Fauzi hadir dengan konsep Triharmoni dalam kepemimpinan KNPI Kota Sukabumi, saya melihat ini sebagai upaya serius untuk keluar dari lingkaran itu. Ia ingin menjadikan KNPI sebagai “rumah bersama” yang harmonis, adaptif, dan berdampak nyata. Bahkan, ada penekanan bahwa KNPI harus menjadi ruang strategis yang menghubungkan pemuda dengan pemerintah sekaligus menjadi wadah aspirasi dan kontrol sosial.

Secara konsep, ini tidak bermasalah. Bahkan terasa tepat. Triharmoni menyasar langsung tiga simpul yang selama ini sering renggang. Organisasi kepemudaan, pemerintah, dan masyarakat. Jika ketiganya benar-benar selaras, konflik bisa berkurang. Energi pemuda bisa lebih produktif.

Masalahnya, KNPI bukan kekurangan konsep. KNPI kelebihan pengalaman konflik. Kita belajar dari banyak kasus sebelumnya. Dualisme kepemimpinan. Ego sektoral. Bahkan konflik yang seperti punya jadwal rutin. Ini bukan sekadar masalah teknis. Ini sudah menjadi pola. Dalam bahasa yang lebih jujur, ini sudah mendekati budaya organisasi.

Di titik ini, Triharmoni diuji. Apakah ia benar-benar menawarkan perubahan sistem, atau hanya memperhalus cara kita menyebut masalah lama?

Mari kita mulai dari harmoni antar organisasi kepemudaan. Ini bagian paling krusial. Selama ini, banyak organisasi bertemu justru saat konflik memuncak. Jarang bertemu saat program berjalan. Akibatnya, relasi dibangun dalam suasana tegang, bukan kerja sama.

Triharmoni seharusnya membalik pola ini. Bukan hanya mengajak bersatu, tetapi memaksa kolaborasi. Program lintas organisasi harus menjadi kebiasaan, bukan pengecualian. Kalau perlu, lebih banyak rapat kerja bersama daripada rapat klarifikasi konflik. Walau saya curiga, rapat klarifikasi biasanya lebih ramai.

Lalu soal relasi dengan pemerintah. Ini bagian yang agak sensitif, seperti topik yang dihindari saat diskusi keluarga. Dalam narasi yang dibangun, KNPI ingin menjadi mitra strategis pemerintah. Itu bagus. Tetapi pertanyaannya sederhana. Mitra yang bagaimana?

Kalau mitra berarti selalu setuju, maka KNPI akan kehilangan fungsi kritisnya. Tetapi kalau terlalu berjarak, KNPI juga kehilangan pengaruh. Di sinilah keseimbangan dibutuhkan. Harmoni bukan berarti diam. Kadang, bentuk harmoni yang paling jujur justru adalah kritik yang disampaikan dengan data, bukan emosi.

Yang menarik, dalam praktiknya, banyak organisasi justru lebih nyaman berada di dua ekstrem. Terlalu dekat atau terlalu jauh. Tengahnya sepi. Mungkin karena di tengah itu tidak ada panggung.

Dimensi ketiga adalah masyarakat. Ini yang paling sering disebut, tetapi paling jarang diukur. Kita sering mengatakan ingin berdampak. Tetapi dampaknya apa? Apakah pemuda lebih berdaya? Apakah masalah sosial berkurang? Atau hanya jumlah kegiatan yang bertambah?

Triharmoni akan punya makna jika masyarakat merasakannya, bukan hanya mendengarnya. Kalau masyarakat masih melihat KNPI sibuk dengan urusan internal, maka harmoni itu belum sampai ke tujuan.

Di sinilah saya melihat satu hal penting. Triharmoni tidak cukup sebagai gagasan. Ia harus berubah menjadi sistem. Harus ada mekanisme resolusi konflik yang jelas. Harus ada indikator keberhasilan yang terukur. Harus ada keberanian untuk menertibkan diri sendiri.

Tanpa itu, kita hanya akan mengganti istilah. Dulu kita bicara persatuan. Sekarang kita bicara harmoni. Besok mungkin kita bicara sinergi. Konfliknya tetap sama, hanya bahasanya yang semakin halus.

Saya membayangkan, suatu hari nanti, KNPI tidak lagi dikenal karena konflik internalnya, tetapi karena kontribusinya. Itu mungkin terdengar ideal. Tetapi setiap perubahan besar selalu dimulai dari sesuatu yang tampak sederhana. Dalam hal ini, mungkin dari kesediaan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Triharmoni memberi peluang ke arah itu. Ia seperti jembatan yang sedang dibangun. Pertanyaannya, apakah kita benar-benar ingin menyeberang, atau hanya sibuk berdiri di atasnya sambil berfoto?

Karena jujur saja, kita sudah terlalu sering meresmikan jembatan. Tetapi masih saja berjalan di jalan yang lama.

Wallahu a’lamu

Tinggalkan Balasan