Sukabumi Pedia

Aa KH. Asep Saepul Alam, Pendiri Ponpes Nurul Huda Cibolangkidul

19
×

Aa KH. Asep Saepul Alam, Pendiri Ponpes Nurul Huda Cibolangkidul

Sebarkan artikel ini
KH, Asep Saepul Alam, Pendiri Ponpes Nurul Huda )Yaspin) Sukabumi

KH. Asep Saepul Alam atau yang lebih dikenal dengan Aa dikalangan masyarakat Cibolang, dilahirkan pada Kemis, kaping 05 Dzulqo’dah 1367 H bertepatan dengan tanggal 09 September 1948 M di Kp. Cipicung, Desa Mangkalaya, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi. Ia adalah anak tunggal dari pasangan bapak Satibi dengan ibu Oom, seorang petani yang berasal dari keluarga biasa-biasa.

Sejak kecil ia sudah belajar ilmu agama langsung dari ayahandanya dan dari para Mu’allimin-Ustadz yang ada di Kp. Cipicung dan Mangkalaya. Pendidikan formalnya ditempuh di SD & MD Mangkalaya dari tahun 1955 s.d. tahun 1961 M. Saat itu, Asep kecil pergi ke sekolah setiap hari dengan berjalan kaki dari Kp. Cipicung ke Mangkalaya dengan jarak tempuh kurang lebih 6 Km.

Pada saat menginjak kelas 5 SD/MD menjelang naik ke kelas 6 SD/MD, Asep Saepul Alam dibawa pindah oleh kedua orang tuanya dari Kp. Cipicung ke Kp. Cibolangkidul yang merupakan tempat kelahiran ayahnya. Dari Kp. Cibolangkidul selama 1 tahun ia berjalan kaki pergi sekolah ke SD/MD Mangkalaya untuk menamatkan sekolahnya.

Di Cibolangkidul, keluarga Asep Saepul Alam tinggal di rumah pemberian sementara seorang tokoh agama setempat yang cukup mapan ekonominya yaitu Muallim Mu’ti (di kemudian hari Mu’allim Mu’ti ini menjadi mertua Asep Saepul Alam).

Untuk menopang kehidupan sehari-harinya, keluarganya berjualan kecil-kecilan dengan membuka warung makanan di rumahnya.

Selepas dari SD dan MD, Asep tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan formal tetapi atas saran
Muallim Mu’ti dan KH. Kholil (seorang tokoh agama Islam panutan Kp. Cibolangkidul, murid dari KH. Ahmad Sanusi Gunung Puyuh dan KH. Uci Sanusi Cikaroya) beliau dianjurkan untuk melanjutkan pendidikannya ke Pesantren Sunanul Huda Cikaroya.

Dengan diantar oleh KH. Kholil sendiri, Asep dimasukan ke pesantren tersebut yang kala itu masih dipimpin oleh KH. Uci Sanusi ayahanda dari KH. Dadun Sanusi.

Guru-guru beliau disana adalah KH. Uci Sanusi, KH. Dadun Sanusi, KH. Ilyas Tafsiri dan KH. Eman Sulaeman. Karena kecerdasan dan ketekunannya dalam belajar, Asep termasuk santri kesayangan dari KH. Dadun Sanusi.

Pada tahun 1968 di saat Asep Saepul Alam masih mondok di Pesantren Sunanul Huda.
Beliau dinikahkan oleh orangtuanya dengan anak gadis Muallim Mu’ti, bernama ‘lah Robi’ah.
Beliau baru berhenti mondok dari Pesantren Sunanul Huda setelah dikaruniai putra, walaupun putra pertamanya tidak berumur panjang.

Kehidupan rumah tangga Asep Saepul Alam dan istrinya mendapat sokongan yang cukup besar dari sang mertua, sehingga walaupun sudah berumah tangga tetapi beliau masih leluasa belajar ilmu agama Islam dari satu pesantren ke pesantren lainnya, seperti berguru kepada KH. Karim Kasim di Pesantren Syamsul ‘Ulum Gunung Puyuh serta pesantren lainnya.

Sekitar tahun 1975 setelah Muallim Mu’ti meninggal, mulailah Asep Saepul Alam berkiprah mengamalkan ilmu agama Islam di Kp. Cibolang dengan membuka pengajian anak-anak kecil dan pengajian pemuda yang bertempat di kediamannya dan di masjid jami. Sementara untuk menopang kehidupan ekonominya, Kyai Asep berjualan pakaian keliling dari satu kampung ke kampung lainnya. Dari hasil berjualan keliling tersebut sedikit demi sedikit hasilnya ia kumpulkan dan akhirnya beliau membeli sebuah kios pakaian di Pasar Cibadak sebagai tempat usaha (dagang pakaian jadi) bersama istrinya.

Dari awal berdagang, beliau sudah memiliki niat dikemudian hari dari hasil usahanya tersebut beliau ingin mendirikan Pesantren, tetapi sebelum mendirikan Pesantren beliau ingin menunaikan Ibadah Haji terlebih dahulu. Berkat izin Allah yang dibarengi dengan kerja kerasnya, pada tahun 1982, beliau bersama istrinya menunaikan ibadah Haji ke Mekkah.

Pada tahun 1984, tepatnya pada tanggal 6 Oktober 1984 atau 10 Muharram 1405 H. Beliau mendirikan Pesantren dengan nama Pesantren NURUL HUDA, sebuah nama pesantren yang diberikan oleh gurunya KH. Dadun Sanusi. Dan semenjak itu setiap tanggal 10 Muharram dijadikan sebagai hari lahir/milad pesantren sampai saat ini.

Dari hasil pernikahannya, beliau dikarunia 6 orang anak, anak yang pertama meninggal dalam usia kanak-kanak, sedangkan 5 anak lainnya adalah:
1. Drs. KH. Abdul Aziz
2. H. Apipududin, M.Ag.
3. Mahdi Abdul Hadi, S.lP.
4. Nelis Sa’adah, S.Pd.
5. Al-Hafidz Zaini Makki, M.Pd.

Beliau sangat keras dalam mendidik anak-anak dalam urusan ilmu agama, sehingga sejak kecil anak-anaknya sudah diajarkan Al-Qur’an dan kitab-kitab kuning. Dalam urusan pendidikan formal beliau mengharuskan agar anak-anaknya dapat melanjutkan pendidikan formalnya sampai tingkat perguruan tinggi agar ada keseimbangan antara dunia pesantren dan dunia pendidikan formal dan dikemudian hari dapat ikut membantu mengembangkan dan memajukan pesantren yang beliau dirikan

Pada tahun 1996, belau bersama para putranya mendirikan yayasan dengan nama Yayasan Pendidikan Islam Nurul Huda (YASPIN), dan pada tahun 1997 membuka sekolah formal yaitu Madrasah Tsanawiyah (MTs.) Nurul Huda, kemudian pada tahun 2000 membuka Madrasah Aliyah (MA) Nurul Huda, lalu tahun 2006 membuka TK Islam Nurul Huda.

Tugas beliau dari mulai membina masyarakat, mendirikan pesantren dan yayasan, menyelenggarakan pendidikan formal, lalu mendidik dan membesarkan anak-anak beliau, terakhir beliau menikahkan putranya yang bungsu terasa sudah lengkap.

Pada hari Jum’at malam Sabtu tanggal 18 Februari 2011 bertepatan dengan tanggal 15 Rabi’ul Awwal 1432 H, di saat beliau bersama seluruh santrinya akan berangkat ziarah ke makam para Wali dan Ulama di daerah Lampung dan sekitarnya sebagai agenda tahunan pesantren, tetapi kehendak Allah berbicara lain, beliau dipanggil oleh Yang Maha Kuasa Allah SWT dalam usianya 63 tahun 3 bulan.

Dan, sejak saat itu, perjuangannya di pesantren dilanjutkan oleh para putranya.

Catatan: Penulisan biografi tokoh di Sukabumi Pedia dapat disesuaikan dan diperbarui sewaktu-waktu berdasarkan perkembangan informasi serta data terbaru yang berkaitan dengan tokoh yang bersangkutan.

Tinggalkan Balasan