Edukasi

Trilogi Jalan Pulang: Dari Ego Menuju Saf Jama’ah

234
×

Trilogi Jalan Pulang: Dari Ego Menuju Saf Jama’ah

Sebarkan artikel ini
Oleh : Dr. Mulyawan Safwandy Nugraha 
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Serigala di Tengah Kerumunan

Ada saat ketika kita merasa ramai, tetapi sebenarnya sendiri. Ada saat ketika kita berada di tengah umat, tetapi hati kita terpisah. Di titik itulah hadits ini terasa dekat, bukan sekadar teks, tetapi cermin.

ุนูŽู†ู’ ู…ูุนูŽุงุฐู ุจู’ู†ู ุฌูŽุจูŽู„ู ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ู‚ุงู„ ุŒุฃู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ุงู„ :ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ูŽ ุฐูุฆู’ุจู ุงู„ู’ุฅูู†ู’ุณูŽุงู†ู ูƒูŽุฐูุฆู’ุจู ุงู„ู’ุบูŽู†ูŽู…ู ูŠูŽุฃู’ุฎูุฐู ุงู„ุดู‘ูŽุงุฐูŽู‘ุฉูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู‚ูŽุงุตููŠูŽุฉูŽ ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุงุญููŠูŽุฉูŽ ูˆูŽุฅููŠู‘ูŽุงูƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ุดู‘ูุนูŽุงุจูŽ ูˆูŽุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุจูุงู„ู’ุฌูŽู…ูŽุงุนูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽุงู…ู‘ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู…ุณุฌุฏ(ุฑูˆุงู‡ ุฃุญู…ุฏ)

โ€œSesungguhnya syetan adalah serigala terhadap manusia seperti serigala menerkam kambing yang terasing, menjauh dan menyisih. Maka janganlah kalian menempuh jalan sendiri dan hendaklah kalian berjamaโ€™ah dan berkumpul dengan orang banyak dan Masjid.โ€(HR. Ahmad)

Serigala itu tidak selalu tampak. Ia tidak selalu menyerang dengan suara keras. Ia sabar. Ia menunggu. Ia mengincar yang lelah, yang kecewa, yang merasa tidak dibutuhkan. Ia mencari yang keluar dari barisan.

Kadang kita merasa benar sendiri. Kita merasa kelompok kita paling lurus. Kita mulai menjaga jarak dari yang lain. Dari situ, pelan-pelan kita keluar dari jamaah, walau secara fisik masih di dalamnya.

Padahal Allah sudah memberi arah yang sangat jelas:

ูˆูŽุงุนู’ุชูŽุตูู…ููˆุง ุจูุญูŽุจู’ู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฌูŽู…ููŠุนุงู‹ ูˆูŽู„ุง ุชูŽููŽุฑู‘ูŽู‚ููˆุง

โ€œDan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.โ€ (QS. Ali Imran: 103)

Ayat ini tidak bicara soal jumlah. Tidak bicara soal besar kecilnya kelompok. Ini bicara tentang keterikatan pada kebenaran. Tentang kesediaan untuk tetap bersama walau berbeda.

Cak Nun sering mengingatkan, yang paling berbahaya bukan perbedaan. Yang berbahaya adalah rasa paling benar yang membuat kita berhenti mendengar. Dari situ lahir jarak. Dari jarak lahir kecurigaan. Dari kecurigaan lahir perpecahan.

Saya pernah duduk di satu forum kecil. Isinya orang-orang baik. Semua ingin memperjuangkan Islam. Tapi diskusi berubah menjadi saling mengoreksi. Lalu saling menyalahkan. Akhirnya tidak ada yang pulang dengan hati lapang.

Di situ saya sadar. Serigala tidak selalu datang dari luar. Ia bisa muncul dari dalam ego kita sendiri.Masjid sebenarnya sudah disiapkan sebagai ruang penyatu. Bukan hanya tempat sujud, tetapi tempat hati bertemu. Tempat perbedaan menjadi rahmat, bukan bahan konflik.

Kalau kita mulai merasa paling benar, mungkin itu tanda kita mulai menjauh. Kalau kita mulai sulit menerima perbedaan, mungkin itu tanda kita sudah keluar dari lingkaran jamaah, walau masih berdiri di saf yang sama.

Kita tidak diminta menjadi sama. Kita diminta tetap bersama. Dan mungkin, tugas kita hari ini sederhana. Menahan diri untuk tidak cepat menghakimi.

“Mendekat, bukan menjauh. Masuk ke masjid, bukan keluar dari jamaah. Karena serigala tidak pernah menyerang yang bergerombol dengan hati yang utuh.”

Ketika Berbeda Tidak Lagi Bersama

Perbedaan itu sunatullah. Tidak bisa dihapus. Tidak perlu dihapus. Tapi perpecahan, itu pilihan. Dan seringkali, pilihan itu lahir dari cara kita menyikapi perbedaan.Rasulullah sudah memberi peringatan yang sangat halus, tapi dalam:

ุนูŽู†ู’ ู…ูุนูŽุงุฐู ุจู’ู†ู ุฌูŽุจูŽู„ู ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ู‚ุงู„ ุŒุฃู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ุงู„ :ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ูŽ ุฐูุฆู’ุจู ุงู„ู’ุฅูู†ู’ุณูŽุงู†ู ูƒูŽุฐูุฆู’ุจู ุงู„ู’ุบูŽู†ูŽู…ู ูŠูŽุฃู’ุฎูุฐู ุงู„ุดู‘ูŽุงุฐูŽู‘ุฉูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู‚ูŽุงุตููŠูŽุฉูŽ ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุงุญููŠูŽุฉูŽ ูˆูŽุฅููŠู‘ูŽุงูƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ุดู‘ูุนูŽุงุจูŽ ูˆูŽุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุจูุงู„ู’ุฌูŽู…ูŽุงุนูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽุงู…ู‘ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู…ุณุฌุฏ(ุฑูˆุงู‡ ุฃุญู…ุฏ)

โ€œSesungguhnya syetan adalah serigala terhadap manusia seperti serigala menerkam kambing yang terasing, menjauh dan menyisih. Maka janganlah kalian menempuh jalan sendiri dan hendaklah kalian berjamaโ€™ah dan berkumpul dengan orang banyak dan Masjid.โ€(HR. Ahmad)

Masalahnya bukan pada berbeda. Masalahnya ketika perbedaan berubah menjadi jarak. Lalu jarak berubah menjadi sekat.Dalam tradisi Islam, ada istilah ikhtilaf dan tafarruq. Ikhtilaf itu perbedaan. Tafarruq itu perpecahan. Yang satu bisa menjadi rahmat. Yang lain bisa menjadi musibah.

Allah mengingatkan dampaknya dengan sangat konkret:

ูˆูŽุฃูŽุทููŠุนููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูŽู‡ู ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽู†ูŽุงุฒูŽุนููˆุง ููŽุชูŽูู’ุดูŽู„ููˆุง ูˆูŽุชูŽุฐู’ู‡ูŽุจูŽ ุฑููŠุญููƒูู…ู’

โ€œDan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.โ€ (QS. Al-Anfal: 46)

Hilang kekuatan itu nyata. Kita bisa lihat di banyak tempat. Umat sibuk berdebat hal kecil, tapi lemah dalam hal besar. Mudah tersinggung, tapi sulit bekerja sama.

Cak Nun pernah bilang, umat ini sering kelelahan bukan karena banyak bekerja, tapi karena banyak bertengkar.

Saya merasakan itu. Di grup kecil saja, sering muncul perdebatan panjang. Kadang bukan untuk mencari kebenaran, tapi untuk menang. Padahal kebenaran tidak butuh kita untuk menang. Ia butuh kita untuk tunduk.Yang menarik, Rasulullah tidak hanya melarang menyendiri. Beliau juga mengarahkan ke mana kita harus kembali. Jamaah. Masjid.

Masjid bukan sekadar bangunan. Ia simbol keterhubungan. Di sana kita berdiri sejajar. Tidak ada yang lebih tinggi. Tidak ada yang lebih rendah.

Allah menegaskan siapa yang layak memakmurkannya:

ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ูŠูŽุนู’ู…ูุฑู ู…ูŽุณูŽุงุฌูุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽู†ู’ ุขู…ูŽู†ูŽ ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ุขุฎูุฑู

โ€œYang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.โ€(QS. At-Taubah: 18)

Pertanyaannya sederhana. Apakah kita datang ke masjid untuk mendekat, atau justru membawa sekat?

Kalau kita ingin kuat, kita harus kembali belajar bersama. Belajar berbeda tanpa berpisah. Belajar tidak selalu harus sepakat, tapi tetap saling menghormati.

“Karena kehilangan kekuatan umat, sering bukan karena musuh terlalu besar. Tapi karena kita terlalu sibuk saling melemahkan.”

Jalan Pulang ke Jamaah

Ada momen dalam hidup ketika kita lelah dengan manusia. Kita memilih diam. Menjauh. Merasa lebih aman sendiri. Tapi justru di titik itu, kita paling rentan.

Rasulullah mengingatkan dengan gambaran yang sangat sederhana:

ุนูŽู†ู’ ู…ูุนูŽุงุฐู ุจู’ู†ู ุฌูŽุจูŽู„ู ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ู‚ุงู„ ุŒุฃู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ุงู„ :ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ูŽ ุฐูุฆู’ุจู ุงู„ู’ุฅูู†ู’ุณูŽุงู†ู ูƒูŽุฐูุฆู’ุจู ุงู„ู’ุบูŽู†ูŽู…ู ูŠูŽุฃู’ุฎูุฐู ุงู„ุดู‘ูŽุงุฐูŽู‘ุฉูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู‚ูŽุงุตููŠูŽุฉูŽ ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุงุญููŠูŽุฉูŽ ูˆูŽุฅููŠู‘ูŽุงูƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ุดู‘ูุนูŽุงุจูŽ ูˆูŽุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุจูุงู„ู’ุฌูŽู…ูŽุงุนูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽุงู…ู‘ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู…ุณุฌุฏ(ุฑูˆุงู‡ ุฃุญู…ุฏ)

โ€œSesungguhnya syetan adalah serigala terhadap manusia seperti serigala menerkam kambing yang terasing, menjauh dan menyisih. Maka janganlah kalian menempuh jalan sendiri dan hendaklah kalian berjamaโ€™ah dan berkumpul dengan orang banyak dan Masjid.โ€(HR. Ahmad)

Menarik. Yang diserang bukan yang lemah saja. Tapi yang terpisah.Kadang kita menjauh bukan karena ingin melawan. Tapi karena kecewa. Karena tidak dihargai. Karena lelah dengan konflik.

Tapi menjauh tidak pernah menyelesaikan masalah. Ia hanya membuka pintu masalah baru.

Allah sudah memberi pegangan yang jelas:

ูˆูŽุงุนู’ุชูŽุตูู…ููˆุง ุจูุญูŽุจู’ู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฌูŽู…ููŠุนุงู‹

โ€œDan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah.โ€(QS. Ali Imran: 103)

Kata โ€œsemuanyaโ€ penting. Artinya kita tidak diminta selamat sendiri. Kita diminta selamat bersama. Cak Nun sering mengajak kita melihat Islam sebagai ruang kebersamaan, bukan kompetisi. Bukan siapa yang paling benar. Tapi siapa yang paling menjaga kebersamaan.

Saya pernah melihat seorang tua di masjid. Ia tidak banyak bicara. Tidak ikut debat. Tapi selalu hadir. Selalu menyapa. Selalu merapikan saf.Mungkin ia tidak tahu banyak teori. Tapi ia menjaga jamaah dengan cara yang paling sederhana.

Kadang kita terlalu sibuk dengan wacana besar. Tapi lupa merawat hal kecil. Menyapa. Mendengar. Mengalah sedikit.Masjid seharusnya menjadi tempat pulang. Bukan hanya untuk sujud, tapi untuk memperbaiki hubungan.

Kalau kita mulai jauh, mungkin itu tanda kita harus kembali. Bukan kembali ke kelompok. Tapi kembali ke hati yang ingin bersama.

Karena pada akhirnya, iman tidak hanya diuji saat kita sendiri. Tapi saat kita harus tetap bersama orang lain, dengan segala perbedaan yang ada.

“Dan mungkin, jalan pulang itu tidak rumit. Cukup melangkah ke masjid. Berdiri di shaf/barisan. Lalu belajar lagi menjadi bagian dari jamaah.”

Tinggalkan Balasan