EdukasiOpini

Ketika Remaja Tidak Mau Mendengar, Mungkin Kita Terlalu Jarang Mendengarkan

28
×

Ketika Remaja Tidak Mau Mendengar, Mungkin Kita Terlalu Jarang Mendengarkan

Sebarkan artikel ini
Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
(Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

Setiap kali muncul kasus pelanggaran tata tertib di sekolah, reaksi yang terdengar hampir selalu seragam: remaja dianggap semakin sulit diatur. Mereka dinilai kurang sopan, tidak disiplin, mudah membantah guru, dan terlalu lekat dengan gawai di tangan. Diagnosisnya cepat, bahkan sering kali buru-buru disertai kesimpulan bahwa generasi sekarang sedang mengalami kemerosotan akhlak.

Namun, benarkah persoalannya sesederhana itu?

Ada satu pertanyaan mendasar yang justru jarang kita ajukan: Apakah selama ini orang dewasa sudah cukup mendengarkan mereka?

Membaca Ruang Emosional Siswa

Pertanyaan ini menjadi pemantik yang menarik jika kita membedah hasil penelitian oleh Liese Noor Puspitasari dan Mulyawan Safwandy Nugraha (2026). Penelitian tersebut menyoroti peran Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam mengarahkan respons emosional siswa terhadap tata tertib sekolah di SMP Negeri 1 Cibadak, Kabupaten Sukabumi.

Temuan lapangan memperlihatkan fakta menarik: perubahan perilaku siswa tidak selalu lahir dari hukuman yang lebih berat atau aturan yang lebih ketat. Sebaliknya, perubahan positif justru muncul ketika guru membangun komunikasi yang menghargai perasaan siswa, sekaligus mengajak mereka memahami makna di balik aturan tersebut.

Temuan ini mengajak kita melihat dunia pendidikan dari sudut pandang yang berbeda.

Selama bertahun-tahun, sekolah kerap dibangun dengan asumsi satu arah: guru berbicara dan siswa mendengar. Guru menjelaskan, siswa mencatat. Guru menegur, siswa menerima. Guru memberi aturan, siswa menaati.

Model konvensional ini memang penting untuk menjaga ketertiban. Namun, ketika diterapkan tanpa ruang dialog, hubungan antara guru dan siswa akan berubah menjadi relasi kaku yang hanya bertumpu pada otoritas semata.

Benturan Dua Era

Padahal, remaja masa kini hidup dalam ekosistem yang jauh berbeda dengan generasi pendahulunya. Tumbuh di tengah arus informasi yang serbacepat, mereka terbiasa mengemukakan pendapat, mempertanyakan sesuatu, dan mencari jawaban mandiri dari berbagai sumber.

Ketika sekolah hanya menyediakan ruang untuk mendengar, sementara kehidupan sehari-hari melatih mereka untuk berbicara, benturan psikologis dan perilaku hampir tidak dapat dihindari.

Di sinilah penelitian di SMPN 1 Cibadak memberikan pelajaran penting. Guru PAI yang menjadi subjek penelitian tidak berhenti pada teks penyampaian aturan. Mereka mencoba menggali alasan di balik perilaku siswa:

  • Mengapa seorang siswa terlambat?
  • Mengapa ada yang menolak memakai atribut lengkap?
  • Mengapa ada siswa yang tampak defensif atau marah saat ditegur?

Teguran tetap diberikan secara tegas, tetapi didahului dengan komunikasi empatik yang membuat siswa merasa dihargai sebagai seorang pribadi.

Dialog sebagai Fondasi Akhlak

Pendekatan seperti ini tampak sederhana, namun sebetulnya inilah inti dari pendidikan itu sendiri. Seorang remaja yang merasa didengar akan jauh lebih mudah membuka diri untuk menerima nasihat. Sebaliknya, ketika mereka merasa langsung dihakimi, mereka akan otomatis membangun benteng pertahanan diri. Akibatnya:

  • Nasihat berubah di telinga mereka sebagai kritik.
  • Teguran dianggap sebagai serangan personal.
  • Aturan dipandang sebagai ancaman terhadap kebebasan.

Banyak konflik di lingkungan sekolah sesungguhnya bukan bermula dari kebencian siswa terhadap aturan, melainkan dari cara aturan itu disampaikan.

Dalam perspektif Pendidikan Agama Islam, ruang dialog bukanlah sesuatu yang asing. Al-Qur’an sendiri berulang kali merekam bagaimana para nabi membangun dialog yang hangat dengan umatnya. Rasulullah saw. pun lebih sering menggunakan pendekatan persuasif daripada mengedepankan hukuman. Bahkan saat menghadapi kesalahan para sahabat, beliau memilih membangun kesadaran internal terlebih dahulu sebelum menjatuhkan penilaian.

Mengubah Rasa Takut Menjadi Kesadaran

Sayangnya, semangat dialog ini belum sepenuhnya membumi dalam praktik pendidikan kita. Tidak sedikit guru yang masih menganggap bahwa mendengarkan argumen siswa adalah tanda runtuhnya wibawa atau kelemahan. Di sisi lain, sebagian siswa menganggap berbicara jujur kepada guru sebagai tindakan yang berisiko.

Akibat jeda ini, komunikasi menjadi macet. Ketika masalah telanjur meletup, kedua belah pihak sama-sama merasa menjadi korban yang tidak dipahami.

Penelitian ini memperlihatkan bahwa Guru PAI mampu memecah kebuntuan tersebut melalui pendekatan yang lebih manusiawi:

  1. *Nasihat Personal:* Pendekatan dilakukan secara personal, bukan mempermalukan di depan umum.
  2. *Keteladanan Utama:* Menampilkan contoh nyata lebih diutamakan daripada ceramah panjang lebar.
  3. *Pembiasaan Konsisten:* Refleksi religius dilakukan secara konsisten sehingga nilai agama tidak mandek sebagai teori hafalan.

Membangun akhlak bukan sekadar urusan hitam-putih mengajarkan mana yang benar dan salah. Membangun akhlak berarti membangun hubungan. Ketika hubungan antara guru dan siswa sehat, nilai-nilai kebaikan akan mengalir dengan mudah. Sebaliknya, ketika hubungan dipenuhi rasa takut, bahkan nasihat yang benar sekalipun akan mental dan ditolak.

Jalan Menuju Sekolah yang Hidup

Persoalan ini sejatinya adalah cermin besar bagi kita semua, tidak hanya di sekolah. Di rumah, banyak orang tua mengeluhkan anak-anak mereka yang semakin tertutup. Namun, kita lupa berkaca, apakah kita sudah lebih banyak mendengarkan cerita mereka atau justru lebih sering menghujani mereka dengan dikte? Di masyarakat, kita menuntut remaja untuk santun, namun ruang bagi mereka untuk bersuara justru semakin menyempit.

Kita sering kali menuntut generasi muda untuk belajar mendengar. Padahal, mungkin mereka sebenarnya sedang menunggu kita—orang dewasa—untuk belajar mendengar terlebih dahulu.

Hasil penelitian ini layak mendapat perhatian luas karena esensinya melampaui urusan tata tertib sekolah atau peran Guru PAI semata. Ini adalah pengingat bahwa pendidikan adalah proses merawat kepercayaan. Kepercayaan lahir dari komunikasi, dan komunikasi hanya akan tumbuh subur ketika ada kemauan untuk saling mendengarkan.

Sekolah yang baik bukan sekadar sekolah yang memiliki buku saku tata tertib yang tebal dan lengkap. Sekolah yang baik adalah sekolah yang mampu menjadikan aturan sebagai jembatan untuk membangun dialog, bukan sekadar alat pemukul untuk mengendalikan perilaku.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak boleh diukur secara dangkal dari berapa banyak siswa yang patuh karena takut. Keberhasilan sejati adalah ketika siswa tumbuh menjadi pribadi yang paham alasan di balik sebuah aturan, mampu menghargai sesama, dan berani mengambil keputusan yang benar atas dasar kesadaran logis dan spiritualnya sendiri.

Ketika remaja tidak mau mendengar, kita tidak perlu terburu-buru meninggikan suara. Bisa jadi, yang mereka butuhkan saat itu hanyalah kesediaan kita untuk merendahkan ego, duduk di samping mereka, dan mulai mendengarkan.

Tinggalkan Balasan