Penulis: Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung
MEDIASUKABUMI – Menjelang usia yang ke-81, bangsa ini mengangkat tema yang terasa sederhana namun sarat makna: Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur. Bagi banyak orang, ini mungkin sekadar kalimat pembuka upacara, atau slogan yang tertulis di spanduk di sepanjang jalan. Namun, jika kita menelisik lebih dalam dengan hati yang jernih dan pandangan yang terang, tema ini sesungguhnya bukanlah buatan tangan manusia semata. Ia adalah gema dari nilai-nilai luhur yang dititipkan Tuhan kepada kita semua sebagai satu umat, satu bangsa di tanah yang subur ini.
Seringkali kita lupa bahwa negara, kekuasaan, dan kedaulatan bukanlah hak milik manusia yang bisa diatur sesuka hati. Semua yang ada di bumi ini, beserta segala kekuasaannya, hanyalah amanah dari Yang Maha Kuasa. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Ingatlah, sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Al-Ghafir: 57).
Dan lagi, tentang siapa yang memegang kekuasaan: “Katakanlah: “Wahai Tuhan Pemilik Kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki.” (QS. Ali Imran: 26).
Maka, ketika kita menyebut “Berdaulat”, maknanya berubah jauh dari sekadar bebas dari campur tangan bangsa asing. Kedaulatan yang sejati bermula dari kedaulatan hati. Bagaimana kita bisa mengklaim memimpin negeri ini dengan tegas dan mandiri, jika diri kita sendiri masih terikat oleh sifat rakus, loba, dan takut pada yang bukan Tuhan? Berdaulat berarti memegang amanah mengelola tanah air beserta isinya dengan jujur, tidak menjual hak rakyat demi keuntungan sesaat, dan tidak membiarkan kekayaan alam kita diambil orang lain denga cara yang tidak adil. Sayangnya, dalam kenyataan hari ini, masih terasa ada yang bolong di sana-sini. Kita masih sering menengadahkan pandangan ke luar negeri, seolah-olah kemampuan sendiri belum cukup, padahal Tuhan telah menganugerahi kita tanah yang kaya raya luar biasa.
Lalu, ada kata “Adil”. Ini adalah perintah yang paling keras dan mendasar dalam setiap ajaran agama. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa: 135).
Dan dalam sebuah Hadits Riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang adil akan duduk di atas mimbar-mimbar cahaya di sisi Allah, yaitu mereka yang memberikan keputusan dengan adil dan mereka yang mengamalkannya kepada keluarga dan orang yang di bawah tanggungannya.”
Lantas, bagaimanakah wajah keadilan di negeri kita saat ini? Kita melihat kemajuan di sana sini, kota-kota besar berkilau, namun di sudut lain masih banyak saudara kita yang terabaikan. Masih ada kesenjangan yang tajam antara wilayah pusat dan daerah, antara yang kaya dan yang miskin. Hukum kadang terasa tajam ke bawah dan tumpul ke atas.
Bagaimana mungkin kita mengaku beragama dan bernegara, jika saudara sebangsa sendiri belum merasakan perlakuan yang sama dan adil? Keadilan itu ibarat cahaya, ia tidak boleh membeda-bedakan tempat jatuhnya. Jika kita masih membiarkan ketidakadilan bersemayam di tengah kita, maka itu bukan tanda kemajuan, melainkan tanda kita telah lupa pada inti ajaran Tuhan. Bahkan ada kalanya keadilan itu terasa kabur, seolah-olah yang punya kuasa bisa berbuat semau sendiri, padahal itu sungguh menyalahi janji kebangsaan dan iman kita.
Kemudian, puncak cita-citanya adalah “Makmur”. Seringkali kita mengartikan makmur hanya sebagai banyaknya uang, melimpahnya barang, dan tingginya angka statistik ekonomi. Padahal, dalam pandangan agama, kemakmuran itu jauh lebih luas dan dalam. Ia bukan hanya tentang harta yang menumpuk di tangan segelintir orang, tapi tentang berkah yang menyebar, ketenangan hati yang dirasakan seluruh rakyat, dan terpenuhinya hak-hak orang yang lemah.
Rasulullah SAW mengajarkan: “Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari & Muslim).
Makmur sejati adalah ketika kekayaan bangsa menjadi jaring pengaman bagi yang lemah, bukan alat pamer kekuasaan. Jika negeri ini kaya raya namun masih banyak yang kelaparan, kurang pendidikan, dan hidup dalam kegelisahan, maka itu bukan kemakmuran, melainkan ketimpangan yang menyembunyikan penderitaan.
Realita yang kita hadapi sekarang memang penuh warna. Ada yang hidup sangat nyaman, namun di sisi lain biaya hidup terasa berat bagi banyak orang, dan harapan untuk naik taraf hidup terasa masih jauh bagi mereka yang berada di lapisan paling bawah. Kita belum sepenuhnya merasakan kemakmuran yang menyeluruh dan diberkahi Tuhan.
Sebagai warga bangsa yang beriman dan berbangsa, refleksi yang harus kita lakukan bukanlah sekadar menunjuk kesalahan orang lain atau pemerintah semata. Ujian terbesar kita adalah menata hati sendiri terlebih dahulu. Apakah kita menjadi bagian dari perbaikan, atau justru ikut merusak dengan sikap yang tidak bertanggung jawab?
Kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran tidak akan terbangun hanya dengan undang-undang yang cerdas, melainkan harus didasari akhlak yang mulia dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bangsa ini ibarat sebuah kapal besar yang sedang berlayar menuju masa depan. Kita semua adalah penumpang sekaligus pelayan di dalamnya. Tidak boleh ada yang merasa lebih istimewa dan menginjak yang lain. Persaudaraan kita adalah persaudaraan kebangsaan yang bersumber pada persaudaraan kemanusiaan di hadapan Tuhan.
Ketika kita menyimpang dari jalan kebenaran dan keadilan, maka kestabilan negeri akan terguncang, betapa pun kokohnya gedung-gedung yang kita bangun. Mungkin jalan yang kita tempuh belum lurus sepenuhnya, masih banyak kerikil dan rintangan. Kita juga belum sampai di puncak cita-cita luhur para pendiri bangsa. Namun, janganlah kita menjadi orang yang putus asa. Perubahan besar selalu bermula dari kesadaran kecil di dalam hati masing-masing.
Marilah kita jadikan peringatan HUT RI ini bukan sekadar perayaan, melainkan momen pertobatan dan perbaikan diri. Mari kita pertebal iman dan perkuat rasa persaudaraan yang sudah mulai terkikis ini. Semoga di sisa perjalanan bangsa ini, kita mampu mewujudkan Indonesia yang benar-benar berdaulat atas nama amanah Tuhan, adil atas perintah-Nya, dan makmur penuh berkah bagi seluruh rakyat. Sungguh, urusan bangsa dan negara ini kembali kepada kita semua, dan Tuhanlah yang memegang kendali yang sebenarnya. Semoga kita tidak tergelincir karena kesombongan atau ketidaktahuan kita yang tdk jarang membuat kita lupa diri.
Wallahu ‘alamu











