HumanioraOpini

Trilogi Spiritual; Hidup, Cinta dan Amal

35
×

Trilogi Spiritual; Hidup, Cinta dan Amal

Sebarkan artikel ini
Tarian Sufi
Oleh : Dr. Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung 

Hidup yang Tidak Pernah Kita Miliki

Saya sering merasa hidup ini seperti milik sendiri. Seolah saya bisa mengatur arah, menentukan panjang, bahkan memilih kapan berhenti. Lalu saya membaca sabda ini, dan seperti ditarik kembali ke bumi.

ุนู† ุณู‡ู„ ุจู† ุณุนุฏ ู‚ุงู„ ุฌุงุก ุฌุจุฑูŠู„ ุฅู„ู‰ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูู‚ุงู„: ูŠูŽุง ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุนูุดู’ ู…ูŽุง ุดูุฆู’ุชูŽ ููŽุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ู…ูŽูŠู‘ูุชูŒ

โ€œHiduplah sesukamu, karena sesungguhnya kamu akan mati.โ€

Kalimat ini tidak melarang kita hidup. Tidak juga menakut-nakuti. Tapi seperti menyadarkan. Bahwa hidup ini bukan milik kita. Kita hanya sedang menjalani titipan. Kita sering menunda. Menunda kebaikan. Menunda taubat. Menunda memperbaiki diri. Seolah waktu menunggu kita. Padahal waktu justru sedang mengurangi kita.

ูƒูู„ู‘ู ู†ูŽูู’ุณู ุฐูŽุงุฆูู‚ูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุชู

โ€œSetiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.โ€ (QS. Ali Imran: 185)

Ayat ini tidak menyebut kapan. Tidak juga menyebut bagaimana. Tapi justru di situlah letak peringatannya. Ketidakpastian itu adalah pesan.

Saya pernah duduk di samping seorang sahabat yang sehat. Tidak ada tanda sakit. Tidak ada keluhan. Tapi beberapa hari kemudian, ia sudah tidak ada. Saat itu saya merasa, ternyata kematian tidak menunggu kesiapan kita.

Lalu untuk apa kita hidup?

Kalau hidup hanya untuk mengejar yang fana, maka kita akan lelah. Karena dunia tidak pernah selesai. Tapi kalau hidup untuk Allah, maka setiap langkah punya makna.

Masalahnya bukan kita hidup berapa lama. Tapi bagaimana kita mengisi waktu yang ada. Karena umur tidak diukur dari panjangnya, tapi dari arah yang kita pilih. Kadang kita merasa masih punya banyak waktu. Padahal mungkin yang tersisa hanya sedikit. Kadang kita merasa amal kita masih bisa ditambah nanti. Padahal nanti itu belum tentu ada.

Saya mulai bertanya pada diri sendiri. Kalau hari ini adalah hari terakhir, apa yang ingin saya perbaiki?

Pertanyaan itu sederhana. Tapi jawabannya tidak mudah. Mungkin kita tidak bisa langsung menjadi baik. Tapi kita bisa mulai. Sedikit demi sedikit. Karena yang dinilai bukan hasil akhir saja, tapi proses menuju ke sana.

“Hidup sesukamu. Tapi ingat, kamu akan mati. Kalimat ini bukan ancaman. Ini kasih sayang. Supaya kita tidak terlalu jauh tersesat.”

Cinta yang Pasti Berpisah

Ada satu hal yang paling manusiawi dalam hidup ini. Cinta. Kita mencintai orang tua, pasangan, anak, sahabat. Kita juga mencintai harta, pekerjaan, dan banyak hal lain. Lalu datang nasihat ini ;

ูˆูŽุฃูŽุญู’ุจูุจู’ ู…ูŽู†ู’ ุดูุฆู’ุชูŽ ููŽุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ู…ูููŽุงุฑูู‚ูู‡ู

โ€œCintailah siapa yang kamu suka, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya.โ€

Saya membaca kalimat ini dengan perasaan yang campur. Ada sedih. Ada takut. Tapi juga ada kejujuran yang tidak bisa ditolak. Setiap cinta di dunia ini pasti berpisah. Entah kita yang pergi, atau mereka yang lebih dulu pergi.

Kita sering menggantungkan hati sepenuhnya pada manusia. Kita berharap mereka selalu ada. Selalu mengerti. Selalu setia. Padahal mereka juga terbatas.

Saya pernah kehilangan seseorang yang sangat saya cintai. Saat itu saya merasa dunia seperti berhenti. Tapi waktu tetap berjalan. Dan saya belajar satu hal. Bahwa cinta yang tidak ditautkan kepada Allah akan mudah rapuh.

Nabi ๏ทบ bersabda:

ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุกู ู…ูŽุนูŽ ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุญูŽุจู‘ูŽ

โ€œSeseorang akan bersama dengan yang ia cintai.โ€ (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini memberi arah baru. Bahwa cinta tidak harus dihilangkan. Tapi diarahkan. Kalau kita mencintai karena Allah, maka cinta itu tidak berhenti di dunia. Ia akan berlanjut di akhirat.

Al-Qurโ€™an juga mengingatkan:

ู‚ูู„ู’ ุฅูู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุขุจูŽุงุคููƒูู…ู’ … ุฃูŽุญูŽุจู‘ูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู

(QS. At-Taubah: 24)

Ayat ini tidak melarang kita mencintai keluarga. Tapi mengingatkan agar cinta kita tidak melampaui cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Masalahnya sering sederhana. Kita terlalu dalam mencintai dunia, tapi terlalu tipis mencintai akhirat.

Padahal semua yang kita cintai di dunia ini akan kita tinggalkan. Rumah, jabatan, bahkan orang-orang terdekat. Saya mulai mencoba mengubah cara mencintai. Bukan dengan mengurangi cinta. Tapi dengan meluruskan niat.

Mencintai pasangan sebagai amanah. Mencintai anak sebagai titipan. Mencintai sahabat sebagai jalan menuju kebaikan. Dengan begitu, saat perpisahan datang, kita tidak hancur. Kita sedih, tapi tidak kehilangan arah. Karena kita tahu, semua cinta ini hanya jembatan. Tujuannya tetap satu. Allah.

“Cintailah siapa yang kamu mau. Tapi ingat, kamu akan berpisah. Dan justru karena itu, cintailah dengan cara yang benar.”

Amal yang Tidak Pernah Hilang

Bagian terakhir dari nasihat ini terasa paling tegas.

ูˆูŽุงุนู’ู…ูŽู„ู’ ู…ูŽุง ุดูุฆู’ุชูŽ ููŽุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ู…ูŽุฌู’ุฒููŠู‘ูŒ ุจูู‡ู

โ€œBerbuatlah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya.โ€

Sekilas terdengar seperti kebebasan. Tapi sebenarnya ini tanggung jawab. Kita bebas memilih. Tapi kita tidak bebas dari konsekuensi.

Dalam Islam ada kaidah yang kuat:

ุงู„ู’ุฌูŽุฒูŽุงุกู ู…ูู†ู’ ุฌูู†ู’ุณู ุงู„ู’ุนูŽู…ูŽู„ู

โ€œBalasan itu sesuai dengan jenis perbuatan.โ€

Artinya sederhana. Apa yang kita tanam, itu yang kita panen.

Al-Qurโ€™an menegaskan:

ููŽู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ู’ ู…ูุซู’ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฐูŽุฑู‘ูŽุฉู ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ูŠูŽุฑูŽู‡ู ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ู’ ู…ูุซู’ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฐูŽุฑู‘ูŽุฉู ุดูŽุฑู‘ู‹ุง ูŠูŽุฑูŽู‡ู

(QS. Az-Zalzalah: 7โ€“8)

Tidak ada yang hilang. Bahkan sebesar zarrah. Saya sering merasa amal kecil itu tidak berarti. Senyum, membantu orang, menahan marah. Tapi ayat ini mengubah cara pandang saya. Bahwa yang kecil itu tetap dicatat. Begitu juga dengan kesalahan kecil. Kadang kita anggap remeh. Tapi ternyata tetap punya dampak. Hidup ini seperti menulis. Setiap hari kita menambah halaman. Dan semua akan dibaca kembali.

Lalu Jibril menutup nasihatnya dengan kalimat yang indah.

ุดูŽุฑูŽูู ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ู ู‚ููŠูŽุงู…ูู‡ู ุจูุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ูˆูŽุนูุฒู‘ูู‡ู ุงุณู’ุชูุบู’ู†ูŽุงุคูู‡ู ุนูŽู†ู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู

โ€œKemuliaan seorang mukmin adalah shalat malam, dan harga dirinya adalah tidak bergantung pada manusia.โ€

Saya merenung lama pada bagian ini. Ternyata kemuliaan itu bukan pada jabatan. Bukan pada harta. Tapi pada hubungan kita dengan Allah, terutama saat malam. Saat semua orang tidur. Saat tidak ada yang melihat. Di situlah kualitas iman diuji.

Dan harga diri bukan pada banyaknya relasi. Tapi pada kemandirian hati. Tidak menggantungkan hidup pada manusia. Saya mencoba mulai dari hal kecil. Bangun lebih awal. Shalat malam meski hanya dua rakaat. Belajar tidak terlalu bergantung pada pujian manusia.

Tidak mudah. Tapi terasa menenangkan. Karena pada akhirnya, yang kita bawa hanya amal. Bukan harta. Bukan nama besar.

“Berbuatlah sesukamu. Tapi ingat, semua akan kembali kepada kita. Dan mungkin, yang paling penting bukan seberapa banyak amal kita. Tapi seberapa jujur kita dalam menjalaninya.”

Tinggalkan Balasan