Profil dan Latar Belakang
KH. Muhammad Masthuro adalah seorang ulama kharismatik dari Kampung Tipar, Cisaat, Sukabumi. Beliau lahir dan tumbuh pada masa ketika kehidupan sosial–keagamaan masyarakat desa masih sangat sederhana, bahkan sebagian besar penduduk belum menganggap agama sebagai hal penting dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut dijelaskan dalam catatan sejarah bahwa hingga awal 1920-an, masyarakat Sukabumi masih terbelakang dalam bidang dakwah dan pendidikan Islam
Pada masa kecil dan remajanya, KH. Muhammad Masthuro memulai pembelajaran Al-Qur’an sekitar tahun 1907. Pendidikan beliau berlanjut secara intensif hingga mendalami berbagai disiplin ilmu Islam—mulai dari fikih, tauhid, hingga tasawuf. Beliau juga belajar dari sejumlah ulama lokal dan regional sehingga memiliki sanad keilmuan yang kuat.
KH Masthuro yang lahir pada 1901 kemudian mempersunting Momoh Fatimah untuk jadi pendampingnya. Tidak ada catatan kapan perkawinannya. Hasil perkawinnnya melahirkan puteri yang diberi nama Yayah Badriyah. Namun sayang, Momoh Fatimah tidak bisa mendampingi KH Masthuro dalam kehidupan seterusnya. Dia meninggal lebih awal.
Sepeninggalnya, kemudian dia mempersunting Hafsoh untuk jadi isterinya. Dari Hafsoh lahirlah 4 anak laki-laki dan 6 anak perempuan. Keenam puterinya itu yaitu Umi Bahiyah, Cicih Nafisah, Habibah, Dedeh Rohenah, Bibih Sobihat dan Siti Rofiah. Dua yang disebut terakhir, masih hidup dan masih berkiprah di Al-Masthuriyah.
Dengan demikian, penyebutan Hafsoh sebagai istri kedua, bukan berarti KH Masthuro berpoligami. Bahkan beliau, seperti yang dituturkan anak bungsunya KH Abdul Aziz Masthuro, dengan tegas melarang anak-anaknya untuk berpoligami.
Perjalanan Dakwah dan Pengabdian
Di tengah realitas sosial yang sarat kemaksiatan dan praktik budaya lokal yang tidak sesuai ajaran Islam (misalnya sabung ayam dan hiburan ronggeng), KH. Muhammad Masthuro hadir dengan pendekatan dakwah yang santun, damai, dan menghargai budaya lokal. Pendekatan dakwah seperti ini menjadi ciri khas metode Islam Nusantara—dakwah yang ramah dan mudah diterima masyarakat
Beliau tidak hanya mengajar agama, tetapi juga membangun relasi sosial yang kuat. Melalui sikap tepa selira, KH. Muhammad Masthuro mampu menyentuh hati masyarakat, termasuk tokoh-tokoh keras seperti Mar’i (seorang jawara lokal) yang akhirnya luluh oleh akhlak beliau
Sebagai seorang pejuang, KH. Muhammad Masthuro juga terlibat dalam perjuangan melawan kolonial Belanda. Beliau dikenal berani melindungi para pejuang dan rakyat meskipun di bawah ancaman senjata penjajah
Peran dalam Pendidikan
Kontribusi KH. Muhammad Masthuro dalam pendidikan sangat besar. Beliau mendirikan Madrasah Sirajul Athfal/Banat dan Madrasah Aliyah Sirajul Athfal Banat untuk meningkatkan kualitas generasi muda. Sistem pendidikan yang dibangun memadukan ilmu agama dan ilmu umum agar santri memiliki integritas intelektual sekaligus akhlak mulia
Beliau juga sangat sabar dan telaten dalam mengajar. Setiap pelajaran hanya akan dilanjutkan ke materi berikutnya setelah semua murid menguasai pelajaran sebelumnya. Kesabaran dalam mengajar Al-Qur’an dan disiplin belajar menjadi teladan bagi banyak santri beliau
Washaya Sittah: Warisan Penting
Warisan pemikiran paling monumental dari KH. Muhammad Masthuro adalah Washaya Sittah—enam wasiat yang ditulis tangan pada Januari 1964 dan diwariskan kepada keluarga serta santri. Wasiat ini kemudian dikembangkan dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits oleh KH. Fakhrudin Masthuro setelah beliau wafat
Isi Washaya Sittah mencakup nilai-nilai:
Persatuan dan kerja sama memajukan lembaga pendidikan dan pesantren.
Tidak hasud atau dengki kepada orang lain.
Menutupi kejelekan orang lain dengan penuh hikmah.
Menanamkan kasih sayang.
Memiliki semangat memberi dan berbuat baik.
Menegakkan akhlak sosial yang kuat sebagai bentuk ajaran Islam yang universal.
Nilai-nilai ini telah menjadi pedoman pendidikan, sosial, dan tasawuf di lingkungan Pesantren Al-Masthuriyah dan masyarakat Tipar secara luas
Kiprah Organisasi dan Politik
KH. Muhammad Masthuro aktif dalam berbagai organisasi keislaman dan politik, termasuk:
Al-Ittihad Islamiyah (di bawah KH. Ahmad Sanusi, 1926)
Hizbullah
Partai Masyumi (1942)
Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Sukabumi sebagai Komandan Seksi I berpangkat Lettu (1945)
Partai Nahdlatul Ulama (1953)
Peran beliau menunjukkan bahwa selain mendidik dan berdakwah, KH. Muhammad Masthuro juga berkontribusi pada perjuangan bangsa.
Wafat dan Warisan
KH. Muhammad Masthuro wafat pada tahun 1968. Setelah itu, perjuangan beliau diteruskan oleh putra-putri serta menantunya melalui Pesantren Al-Masthuriyah, yang hingga kini menjadi salah satu pusat pendidikan Islam ternama di Sukabumi.
Warisan keilmuan, akhlak, dan nilai-nilai kemasyarakatan yang beliau tanamkan tetap hidup dalam masyarakat. Washaya Sittah menjadi pedoman moral dan spiritual yang diwariskan lintas generasi.
Sumber : Disusun berdasarkan dokumen “Washaya Sittah – Abdul Jawad”











