Ekonomi

Menggali Peran Koperasi dan Gen Z di Tengah Pertumbuhan Ekonomi RI

16
×

Menggali Peran Koperasi dan Gen Z di Tengah Pertumbuhan Ekonomi RI

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Generated by AI (Gemini)

MEDIASUKABUMI.ID — Ketika Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengumumkan dengan bangga bahwa ekonomi Indonesia tumbuh di atas capaian global, ia tidak hanya mengirimkan pesan tentang kekuatan perekonomian negara yang berkembang. Ini juga menjadi momen refleksi akan banyak hal; mengenai arah yang diambil, tantangan yang dihadapi, dan kontribusi berbagai sektor untuk ketahanan ekonomi negara ini.

Selama beberapa dekade terakhir, Indonesia telah menunjukkan kekuatan ekonomi yang mengesankan meski harus menghadapi berbagai tantangan global seperti krisis finansial, pandemi COVID-19, dan perubahan iklim. Sekarang, pemerintah menargetkan pertumbuhan sebesar 5,6 persen pada tahun 2026. Di tengah pencapaian tersebut, koperasi di Indonesia piuh menjadi sorotan.

Koperasi yang awalnya merupakan gerakan ekonomi rakyat ini, kini memiliki daya tarik baru, terutama di kalangan Generasi Z. Generasi ini tidak hanya mendominasi tren sosial, tetapi juga sedang membentuk cara pandang baru terhadap ekonomi. Pandemi COVID-19 telah mengubah pandangan banyak orang terhadap kerja dan kehidupan, termasuk Generasi Z yang mulai mencari kebersamaan, keberlanjutan, dan keadilan sosial ekonomi, nilai-nilai yang sejalan dengan prinsip-prinsip koperasi.

Optimisme pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi ini beriringan dengan melihat koperasi sebagai mesin pertumbuhan potensial. Ketertarikan Gen Z terhadap koperasi dipandang sebagai fenomena yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Namun, pertanyaannya adalah, bagaimana sebenarnya koperasi dapat berkontribusi secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi yang diklaim pemerintah?

Airlangga dalam pidatonya di depan lembaga asing tidak hanya membanggakan angka pertumbuhan tetapi juga menyajikan data ekonomi terkini; mulai dari peningkatan investasi, terutama dari sektor teknologi dan manufaktur, hingga konsumsi domestik yang terus meningkat.

Namun di balik statistik positif itu, tantangan nyata adalah bagaimana mendorong koperasi untuk meningkatkan kontribusinya. Pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan sektor informal, termasuk koperasi, masih menjadi tantangan besar. Kedua hal ini penting guna mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi yang bisa muncul akibat pertumbuhan yang tidak merata.

Jika dilihat dari perspektif Generasi Z, koperasi bisa menjadi jantung baru ekonomi. Alasannya tidak lain, karena koperasi menawarkan model bisnis yang berbeda, yang memadukan keuntungan dengan dampak sosial, serta berbagi keuntungan secara adil di antara anggotanya. Tetapi untuk mencapai potensi ini, pemerintah dan pelaku koperasi harus mengatasi berbagai kendala, seperti akses modal, dukungan kebijakan, serta pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan keahlian anggotanya.

Tak pelak, tantangan ini membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah. Dalam konteks ini, dapat diperdebatkan bahwa reformasi kebijakan dan pendekatan inovatif untuk mengintegrasikan koperasi ke dalam arus utama ekonomi adalah hal yang harus dilakukan. Ini termasuk menciptakan insentif bagi investor yang tertarik dengan model bisnis berbasis koperasi dan memastikan koperasi dapat bersaing di pasar global yang dinamis.

Sementara itu, skeptisisme dari berbagai pihak tetap ada. Lembaga pemeringkat kredit seperti Moody’s memberikan peringatan tentang ketergantungan Indonesia pada arus modal asing dan volatilitas pasar global. Ini memunculkan keraguan tentang kemampuan pemerintah untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang, terutama jika risiko eksternal meningkat.

Pengamat ekonomi juga memperingatkan bahwa meskipun koperasi dapat menjadi alat penting untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi, efisiensi pengelolaannya harus dioptimalkan. Hal ini terutama berlaku jika ingin menangkap minat Gen Z yang memiliki ekspektasi berbeda dari generasi sebelumnya. Penelitian menunjukkan bahwa Gen Z lebih cenderung mencari peluang bisnis atau usaha yang memberikan nilai tambah nyata dan berbeda dari yang ditawarkan oleh generasi sebelumnya.

Adopsi teknologi digital oleh koperasi bisa menjadi langkah strategis untuk menarik perhatian Gen Z. E-commerce, fintech, dan platform kerja digital adalah area dimana koperasi dapat beradaptasi dan berkembang, serta menarik generasi ini.

Dengan berkembangnya peran koperasi dan dukungan pemerintah, ada harapan bahwa target pertumbuhan ekonomi ambisius Indonesia dapat tercapai. Namun, sebelum itu, perhatian ekstra harus diberikan pada bagaimana optimasi peran generasi muda dan menyediakan ruang bagi mereka untuk berkontribusi secara aktif.

Jika kolaborasi ini terwujud, Indonesia tidak hanya akan mencapai angka pertumbuhan yang diidamkan, tetapi juga menciptakan ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan di masa depan. Pada akhirnya, partisipasi Generasi Z dalam koperasi dapat membantu membentuk ekonomi yang lebih tangguh, mandiri, dan berbasis kepedulian sosial di tanah air.

Dari sisi lain, untuk memastikan keberhasilan ini, koperasi harus disertai dengan kebijakan yang dapat menyediakan dukungan finansial dan pengetahuan bisnis bagi anggotanya. Inisiatif ini perlu datang dari swasta maupun pemerintah agar koperasi dapat dikenal dan dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan sehingga generasi muda lebih paham dan terlibat secara aktif.

Sebagai kesimpulan, perjalanan masih panjang, namun jika kita dapat merangkul kekuatan inovatif dari koperasi serta bakat dan pikiran cerdas dari Generasi Z, maka bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi mercusuar ekonomi baru di kawasan Asia Tenggara dan bahkan global.

Tinggalkan Balasan