MEDIASUKABUMI.ID – Indonesia tengah berada di persimpangan penting dalam upaya mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa agar mampu menyerap tenaga kerja dan mencapai cita-cita Indonesia Emas, ekonomi Indonesia harus tumbuh 6-8 persen. Lebih jauh, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengemukakan kebanggaannya atas pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kini menduduki urutan kedua di antara negara-negara G20. Meski ini merupakan pencapaian besar, langkah-langkah strategis diperlukan untuk mendorong ekonomi ke arah yang lebih ambisius.
Sejak masa post-kemerdekaan, ekonomi Indonesia telah mengalami berbagai siklus, dari puncak pertumbuhan hingga resesi yang menantang. Beberapa dekade terakhir menawarkan pembelajaran tentang bagaimana pengelolaan ekonomi dihadapkan pada tantangan seperti krisis finansial Asia dan, belakangan ini, dampak pandemi Covid-19. Menurut Kementerian Keuangan, indikator ekonomi belakangan ini mulai menunjukkan pemulihan dengan inflasi yang terkendali dan peningkatan neraca perdagangan. Hal ini mendorong optimisme terhadap visi Indonesia Emas yang diharapkan tercapai dalam beberapa dekade ke depan.
Namun, apakah hanya optimisme yang cukup untuk mencapai visi ini? Langkah konkret harus diambil untuk memastikan ekonomi tidak hanya tumbuh tetapi juga bisa menempatkan posisi pekerja sebagai prioritas utama. Tantangan utama mencakup bagaimana kebijakan ekonomi menargetkan peningkatan investasi, baik dari dalam negeri maupun asing. Untuk itu, Purbaya menekankan pentingnya regulasi yang lebih mendukung masuknya investasi yang dengan sendirinya akan membuka lapangan kerja baru. Tak hanya persoalan investasi, kualitas tenaga kerja juga menjadi kunci. Melalui reformasi pendidikan dan pelatihan kerja yang tepat, tenaga kerja Indonesia dapat menjadi aset terbesar bagi pertumbuhan ekonomi.
Sementara Airlangga menunjukkan keuntungan Indonesia yang berada di kelompok elite G20, ia tak mengabaikan kebutuhan memperkuat sektor infrastruktur dan teknologi. Sektor-sektor ini memerlukan suntikan investasi besar namun jika dikelola dengan baik dapat menjadi sumber pertumbuhan jangka panjang. Meski demikian, lapangan mencatat bahwa realitas di lapangan tidak selalu sejalan dengan kebijakan di atas kertas. Proyek infrastruktur besar kadang terbentur oleh masalah birokrasi atau tantangan sosial yang menghambat pelaksanaannya. Dampaknya, meskipun investasi telah ditingkatkan, pengangguran tetap menjadi isu yang mengharuskan pemerintah bekerja lebih keras.
Di sisi lain, terdapat kekhawatiran tentang ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Ekonom dari lembaga rating seperti Moody’s menunjukkan risiko potensial yang bisa menggoyahkan stabilitas ekonomi. Ketidakstabilan geopolitik, volatilitas pasar, serta fluktuasi harga komoditas internasional seperti minyak dan gas dapat mengancam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ketergantungan berlebihan pada sektor-sektor tertentu menjadi peringatan bahwa diversifikasi ekonomi adalah keharusan untuk bertahan dari guncangan global.
Partisipasi tenaga kerja produktif yang rendah juga menjadi tantangan tersendiri. Peran perempuan dalam angkatan kerja, misalnya, masih belum optimal, padahal peningkatan partisipasi mereka bisa berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Untuk itu, kebijakan yang suportif bagi inklusivitas dan kesetaraan gender menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi ekonomi jangka panjang. Selain itu, meningkatnya digitalisasi juga menawarkan tantangan sekaligus peluang. Sektor teknologi informasi dan ekonomi digital dapat menjadi penyelamat bagi ekonomi Indonesia yang sedang beradaptasi dengan new normal.
Ke depan, sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat akan menentukan keberhasilan Indonesia mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Kebijakan yang berorientasi inklusi dan keberlanjutan harus menjadi fokus utama agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya berpusat pada angka tetapi juga berdampak nyata pada kesejahteraan rakyat. Ini adalah tugas mendesak bagi pembuat kebijakan untuk memastikan bahwa kebangkitan ekonomi ini sejalan dengan upaya mengurangi ketimpangan sosial.
Dengan kebijakan yang tepat, Indonesia dapat menuai manfaat dari bonus demografi yang diproyeksikan akan berlangsung beberapa dekade mendatang. Generasi muda, sebagai ujung tombak pembangunan, memiliki kesempatan emas untuk berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi dengan inovasi dan kreativitas mereka. Model ekonomi berbasis kolaborasi antar sektor dapat menciptakan ekosistem yang mendukung pengembangan kapasitas dan daya saing nasional. Hanya dengan cara ini visi ekonomi Indonesia yang tidak hanya cerah, tetapi juga gemilang, dapat tercapai.











