Oleh Rangga Suria Danuningrat
MEDIASUKABUMI.ID – Di tengah gemuruh perjuangan merebut kemerdekaan, muncul seorang ulama yang memancarkan semangat juang yang tak pernah padam, K.H.R. Abdullah Khudri bin Buya Syafi’i, yang akrab disapa Aang Khudri. Beliau bukan hanya seorang ulama yang mendalami ilmu-ilmu agama, tetapi juga menjadi tokoh yang menonjol dalam dunia Pencak Silat, menjadi Guru Besar “Pendekar Mustika Karuhun” yang melatih laskar Hizubullah dalam perlawanan melawan penjajah di Bojongkokosan.
Keilmuan Aang Khudri tidak hanya bersumber dari buku-buku agama, namun juga turun temurun dari Pangeran Santri Bin Bahauddin, sebuah warisan yang kental dengan semangat perjuangan. Makam pangeran santri yang berada di Gunung Salak Aulia Babat Kerajaan Salakaraya tersebut menjadi tempat penuh inspiratif bagi santri-santinya, termasuk K.H. Mukti, K.H. Buyai Safeii, K.H. Badri, dan K.H.R. Abdullah Khudri sendiri yang kemudian sepeninggal Pengeran Santri kerap mengunjungi makam paneran santri dan berlatih silat di sana sambil bertirakat.
Makam Pangeran Santri Bin Bahauddin sendiri terletak di lereng Gunung Salak Aulia Babat Kerajaan Salakaraya. Ayah Saumi, yang juga merupakan murid Pangeran Santri, adalah tokoh yang membawa keberkahan dengan melahirkan Ulama-Ulama terkemuka, seperti K.H. Mukti, K.H. Buyai Syafi’i (ayah dari Aang Kudri). Pangeran Santri, adalah tokoh yang membawa keberkahan dengan melahirkan Ulama-Ulama terkemuka, seperti K.H. Mukti, K.H. Buyai Sayafi’i, K.H. Badri, dan termasuk K.H.R. Abdullah Khudri sendiri adalah pemegang amanat ajaran Pangeran Santri bin Bahrudin. Oleh karena itu, seluruh santri yang berasal dari ajaran beliau sangat dianjurkan untuk melakukan tirakat di makam Pangeran Santri Bin Bahauddin Albantani.dan K.H.R. Abdullah Khudri. Oleh karena itu, seluruh santri yang berasal dari ajaran beliau sangat dianjurkan untuk melakukan tirakat di makam Pangeran Santri Bin Bahauddin Albantani sambil ada pula yang meneruskan dengan berlatih silat seperti yang dilakukan K.H.R Abdullah Kudri pada masanya.
Dalam peran dakwahnya, K.H.R Abdullah Kudri atau Aang Khudri, tidak hanya menjadi ulama di masjid-masjid, tetapi juga mengemban misi PBNU untuk menyebarkan ajaran Ahlussunah Waljamaah di Jawa Barat dan Banten. Mandat ini tidaklah ringan, namun semangat juangnya memandu langkahnya, terbukti saat beliau berkeliling selama 12 hari/malam di Kabupaten Sukabumi untuk membangun PCNU setempat.
Habib Hamid Al-athos Syuriah PBNU, yang juga menjadi murid Aang Khudri, menjadi utusan PBNU yang menugaskan beliau sebagai pengemban risalah dakwah. Perintah ini diterima dengan tulus oleh Aang Khudri, dan bersama-sama dengan Habib Hamid, mereka berdua menjadi duta pemersatu umat di berbagai wilayah.
Aang Khudri tak hanya menyebarkan ilmu dan risalah, melainkan juga membentuk Majelis Salafiiyah Badriyah di wilayah Cisaat Desa Cisaat Kecamatan Cicurug Kabupaten Sukabumi. Majelis ini menjadi wahana bagi para santri dan masyarakat umum untuk memahami nilai-nilai Islam secara mendalam dan merangkul semangat juang yang tercermin dari kepemimpinan Aang Khudri. Ia bersama dengan Abdullah Mahfudz Babakan tipar dan KH Ahmad Djunaidi Rodlibillah serta Abdullah Sanusi sukamantri Cisaat, dan KH masturo Tipar Cisaat, ialah termasuk kedalam ulama yang tekun dalam menulis dan berdakwah sambil melatih pencak silat kepada murid-muridnya.

Perjuangan beliau tidak berhenti di masa perjuangan kemerdekaan, namun pada tahun 1965, setelah menyelesaikan konferensi di Bandung pada bulan Mei di tahun itu, para ulama Sukabumi kemudian menggelar pertemuan kembali untuk membahas dan mendirikan cabang Jam’iyyah Thoriqoh Mu’tabaroh. Kegiatan bersejarah ini dihadiri oleh sejumlah ulama Sukabumi dari Kotamadya dan Kabupaten, serta menjadi saksi bagi seorang tokoh agama terkemuka, Al-Habib Syeikh bin Salim Al-Athos. Dari momen inilah, terbentuklah struktur pimpinan sementara untuk cabang Jam’iyyah Thoriqoh Mu’tabaroh di Sukabumi, yang di antaranya melibatkan K.H R Abdullah Kudri atau Aang Kudri sebagai salah satu dari 12 tokoh agama Islam yang turut mendirikannya, dimana jam’iyyah ini menjadi tonggak perjuangan dalam meneruskan syiar islam di Sukabumi guna menangkal faham-faham komunis yang sedang berkembang saat itu.
Kematian sang pejuang, Aang Khudri, tidak meredam semangat juangnya, melainkan menjadi titik awal bagi warisan dan nilai-nilai yang ia tanamkan. Bersama ayahnya, Abuya Muhammad Safe’i, dan pamannya, K.H.R. Badri, Aang Khudri kini bersemayam di makam bersama, kemudian sekeluraga itu menjadi sumber inspirasi bagi generasi selanjutnya utuk terus memperjuangkan Islam yang seiring dengan budaya Pencak Silat peninggalan leluhur.
Dengan penuh jiwa perjuangan, K.H.R. Abdullah Khudri membuktikan bahwa seorang ulama bukan hanya penjaga agama, tetapi juga prajurit yang siap berjuang dalam medan dakwah dan perlawanan dengan membekali ilmu agama dan bela diri. Warisan semangat juangnya yang membara terus berkobar di hati para penerusnya, mengukir namanya sebagai pahlawan yang tak kenal lelah dalam memperjuangkan kebenaran dan kemerdekaan dengan jiwa ksatria.











