Edukasi

Melatih Sabar, Menemukan Diri

24
×

Melatih Sabar, Menemukan Diri

Sebarkan artikel ini
Oleh: *Mulyawan Safwandy Nugraha*
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ada satu kecenderungan dalam diri manusia yang sering luput kita sadari. Kita ingin segala sesuatu hadir secara cepat, selesai tanpa jeda, dan berhasil tanpa proses panjang. Kita ingin sabar, tetapi tidak ingin menjalani latihan untuk menjadi sabar. Di titik ini, sabar sering disalahpahami. Ia dianggap sebagai sifat bawaan, padahal ia adalah hasil pembentukan diri yang terus-menerus.

عن أبي سَعيد سعدِ بن مالكِ بنِ سنانٍ الخدري رضي الله عنهما: أَنَّ نَاسًا مِنَ الأَنْصَارِ سَألوا رسولَ الله صلى الله عليه وسلم فَأعْطَاهُمْ، ثُمَّ سَألوهُ فَأعْطَاهُمْ، حَتَّى نَفِدَ مَا عِندَهُ، فَقَالَ لَهُمْ حِينَ أنْفْقَ كُلَّ شَيءٍ بِيَدِهِ: ((مَا يَكُنْ عِنْدي مِنْ خَيْر فَلَنْ أدَّخِرَهُ عَنْكُمْ، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفهُ اللهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ. وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأوْسَعَ مِنَ الصَّبْر)). مُتَّفَقٌ عليه.

Dari Abu Said iaitu Sa’ad bin Malik bin Sinan al-Khudri radhiallahu ‘anhuma bahwasanya ada beberapa orang dari kaum Anshar meminta – sedekah – kepada Rasulullah S.a.w., lalu beliau memberikan sesuatu pada mereka itu, kemudian mereka meminta lagi dan beliau pun memberinya pula sehingga habislah harta yang ada di sisinya, kemudian setelah habis membelanjakan segala sesuatu dengan tangannya itu beliau bersabda:

“Apa saja kebaikan – yakni harta – yang ada di sisiku, maka tidak sekali-kali akan ku simpan sehingga tidak ku berikan padamu semua, tetapi oleh sebab sudah habis, maka tidak ada yang dapat diberikan. Barang siapa yang menjaga diri – dari meminta- minta pada orang lain, maka akan diberi rezeki kepuasan oleh Allah Swt dan barang siapa yang merasa dirinya cukup maka akan diberi kekayaan oleh Allah Swt – kaya hati dan jiwa – dan barangsiapa yang berlaku sabar maka akan dikurnia kesabaran oleh Allah Swt.

Tiada seorang pun yang dikaruniai suatu pemberian yang lebih baik serta lebih luas – kegunaannya – daripada karunia kesabaran itu.”(Muttafaq ‘alaih)Hadis ini tidak berbicara tentang sabar sebagai sesuatu yang statis. Ia berbicara tentang proses menjadi. “Barang siapa yang melatih diri untuk bersabar.” Di sini terdapat pengakuan yang sangat jujur tentang manusia. Bahwa sabar bukan kondisi awal, melainkan capaian. Ia tidak jatuh dari langit tanpa usaha, tetapi tumbuh dari kesadaran yang dilatih.

Sabar, dalam pengertian ini, bukan sekadar menahan diri. Ia adalah bentuk kedewasaan batin. Seseorang disebut sabar bukan karena ia tidak merasakan sakit, tetapi karena ia mampu menempatkan rasa sakit itu dalam kerangka yang lebih luas. Ia tidak menolak kenyataan, tetapi juga tidak dikuasai oleh kenyataan itu.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan orang yang tampak kuat. Tetapi kekuatan itu bukan karena hidupnya mudah. Justru karena ia terbiasa berdamai dengan kesulitan. Ia tidak mengingkari beban hidup, tetapi ia tidak menjadikannya alasan untuk kehilangan arah.

Al-Qur’an memberikan perspektif yang lebih dalam tentang posisi sabar dalam kehidupan manusia.

وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ, سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

“Sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan), ‘Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.’ maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.”[QS. Ar-Ra’du/13: 23-24]

Ayat ini menunjukkan bahwa sabar bukan hanya nilai moral, tetapi juga nilai eksistensial. Ia menentukan bagaimana seseorang sampai pada akhir perjalanan hidupnya. Sabar menjadi semacam kualitas batin yang diakui, bahkan disambut oleh realitas yang lebih tinggi.

Lebih jauh lagi, Al-Qur’an menegaskan bahwa sabar adalah jalan menuju derajat yang lebih tinggi.

أُولَٰئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا

“Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam syurga) atas kesabaran mereka…[QS. Al-Furqân : 75]

Di sini, sabar tidak lagi sekadar cara bertahan. Ia menjadi jalan naik. Ia mengangkat manusia dari sekadar menjalani hidup menjadi memahami makna hidup itu sendiri.Namun, tidak semua orang mampu sampai pada tahap ini.

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar. dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.”(QS. Fushshilat : 35)

Ayat ini memberi kesan bahwa sabar adalah bentuk keberuntungan yang diperjuangkan. Ia bukan kebetulan. Ia adalah hasil dari pilihan-pilihan kecil yang diulang terus-menerus.

Dalam konteks ini, sabar memiliki dimensi yang luas. Ia hadir dalam ketaatan, ketika seseorang tetap menjalankan kewajibannya meski tidak mudah. Ia hadir dalam menjauhi larangan, ketika seseorang menahan diri dari hal yang diinginkan tetapi tidak benar. Ia hadir dalam menghadapi takdir, ketika seseorang menerima kenyataan tanpa kehilangan kepercayaan. Bahkan ia hadir dalam menikmati nikmat, ketika seseorang tidak larut dalam kesenangan yang melalaikan.

Barangkali yang paling menarik adalah bahwa sabar justru sering tumbuh dalam kesunyian. Ia tidak selalu terlihat. Ia tidak selalu mendapat pengakuan. Tetapi justru di situlah letak nilainya. Ia menjadi hubungan yang intim antara manusia dan Tuhannya.

Dalam dunia yang serba cepat ini, sabar sering dianggap sebagai kelemahan. Padahal, ia adalah kekuatan yang paling mendasar. Tanpa sabar, manusia akan mudah terombang-ambing oleh keadaan. Dengan sabar, manusia memiliki jangkar dalam dirinya.

Maka, sabar bukan tentang menunda tanpa arah. Ia adalah kesadaran untuk tetap berada di jalan yang benar, meski langkah terasa berat. Ia adalah latihan untuk menjaga diri tetap utuh, ketika dunia di sekitar kita berubah dengan cepat.

Dan mungkin, di situlah kita menemukan diri kita yang sebenarnya. Bukan ketika semua berjalan mudah, tetapi ketika kita tetap berdiri dalam kesulitan, dengan hati yang tidak kehilangan harapan.

Wallahu a’lamu

Tinggalkan Balasan