EdukasiHumaniora

Sedekah dan Getaran Hati yang Sering Kita Abaikan

34
×

Sedekah dan Getaran Hati yang Sering Kita Abaikan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

Kadang kita ini aneh. Ketika punya sedikit, kita takut berbagi. Namun, ketika punya banyak, ketakutan itu tidak lantas hilang; kita tetap saja takut berbagi. Seolah-olah rasa cemas itu menjadi lingkaran setan yang tidak pernah selesai.

Nabi Muhammad SAW menggambarkan kondisi psikologis manusia ini dengan sangat jujur dalam sebuah hadis:
“Bersedekah dalam keadaan sehat, pelit, takut miskin, dan ingin kaya.”

Itu kita sekali. Potongan hadis lengkapnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA berbunyi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ؟ فَقَالَ: «أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى…»

Jika direnungkan lebih dalam, Nabi sebenarnya tidak sedang memuji orang yang sudah ringan tangan dan terbiasa memberi. Beliau justru sedang menyoroti mereka yang hatinya masih merasa berat, dirundung dilema, tetapi tetap memilih untuk memberi.

Di titik itulah ada getaran hati. Ada tarik-menarik yang hebat antara keinginan untuk menyimpan dan dorongan untuk melepas; antara rasa takut akan kekurangan dan keyakinan pada sebuah janji.

Al-Qur’an memberi ruang yang sangat logis untuk pergulatan batin ini melalui perintah yang lugas:

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah…” (QS. Al-Baqarah: 195)

Perintahnya sederhana, tidak panjang, dan tidak rumit. Namun, justru karena kesederhanaannya itulah ia langsung menusuk ke hulu hati. Masalah kita dalam bersedekah sering kali bukanlah tahu atau tidak tahu, melainkan mau atau tidak mau.

Saya pernah berada di fase di mana memberi terasa begitu berat. Bukan karena saya benar-benar tidak mampu, melainkan karena ego yang terus membisikkan bahwa apa yang ada belum cukup. Selalu ada alasan untuk menunda. Selalu ada daftar kebutuhan lain yang mendadak terasa jauh lebih penting.

Sampai suatu hari, saya memaksa diri untuk memberi dalam kondisi yang sama sekali tidak nyaman. Nominalnya kecil, tetapi rasanya sangat berbeda. Ada perasaan lega yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Sejak momen itu, saya mulai paham. Sedekah itu sejatinya bukan soal memindahkan angka atau materi, melainkan memindahkan posisi hati—dari yang tadinya berada di pusat (menjadikan diri sendiri sebagai poros segala hal) bergeser ke pinggir, untuk memberikan ruang bagi orang lain.

Ayat berikutnya dalam Al-Qur’an memberikan arah yang sangat manusiawi terkait ke mana sedekah itu harus bermuara:

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ…
“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan…” (QS. Al-Baqarah: 215)

Allah tidak meminta kita menjelma menjadi malaikat yang suci dari pamrih. Kita hanya diminta menjadi manusia yang memiliki kepedulian terhadap lingkaran kehidupan sehari-hari: orang tua, keluarga, anak yatim, orang miskin, hingga musafir. Artinya, peluang untuk bersedekah itu sebenarnya sangat dekat, ada di sekitar kita, dan tidak perlu dicari jauh-jauh.

Sayangnya, kita sering kali terjebak mencari momentum yang besar. Kita memburu sedekah yang terlihat, yang berdampak masif, dan yang berpotensi diapresiasi orang banyak. Padahal, pemberian yang kecil dan dilakukan diam-diam justru sering kali lahir dari niat yang jauh lebih jujur.

Dalam ayat lain, ada redaksi yang selalu membuat saya tersenyum sekaligus merenung:

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا
“Barangsiapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik…” (QS. Al-Baqarah: 245)

Seolah-olah Allah sedang menyapa kita dengan santai, “Ayo, siapa yang mau berinvestasi?” Bahasanya begitu ringan namun maknanya sangat dalam. Kita diajak untuk mengubah cara pandang: melihat sedekah bukan sebagai sebuah kehilangan atau kerugian, melainkan sebagai titipan berharga yang pasti akan kembali. Masalahnya, kita sebagai manusia sering kali tidak sabar menunggu masa “panen” tersebut. Padahal, apa yang kita tanam hari ini mungkin baru akan terasa dampaknya jauh di masa depan—baik di dunia, maupun di kehidupan setelahnya. Janji itu mutlak dan ada.

Sebagai pamungkas, Nabi mengingatkan satu hal yang cukup menohok. Beliau berpesan agar kita jangan menunda-nunda sedekah sampai nyawa sudah berada di tenggorokan. Sebab, jika kita baru memutuskan membagi harta di titik kritis tersebut, kita tidak lagi sedang memberi atau bersedekah. Kita hanya sedang membagikan warisan.

Bedanya mungkin terasa tipis, tetapi maknanya membentang sangat jauh. Memberi adalah sebuah pilihan sadar dan pembuktian iman, sedangkan warisan adalah sebuah keharusan regulatif karena kita sudah tidak lagi memiliki kuasa atas harta tersebut.

Pada akhirnya, saya merasa hadits dan ayat-ayat ini bukan sekadar berbicara tentang fikih sedekah. Ini adalah sebuah refleksi mendalam tentang cara kita menjalani hidup. Apakah kita akan terus menanti hingga semuanya terlambat untuk memulai sebuah kebaikan? Ataukah kita memilih untuk memulainya sekarang, detik ini juga, meski terasa kecil dan berat?

Sebab, boleh jadi yang dinilai oleh Tuhan di atas sana bukanlah digit angka atau jumlah materi yang kita keluarkan, melainkan getaran hebat di dalam hati ketika kita memutuskan untuk mengalahkan ego dan memilih untuk memberi. Dan getaran itulah yang ironisnya sering kali kita abaikan.

Tinggalkan Balasan