HumanioraOpini

Kurban, Antara Alasan dan Kejujuran Iman

18
×

Kurban, Antara Alasan dan Kejujuran Iman

Sebarkan artikel ini
Dr. Mulyawan Safwandy Nugraha (Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi)

Saya pernah merasa cukup dengan satu kalimat. Saya belum mampu berkurban. Kalimat itu terasa aman. Tidak ada yang mempersoalkan. Namun setiap Idul Adha datang, kalimat itu kembali hadir. Pelan, tapi mengusik. Saya mulai bertanya. Ini soal mampu, atau soal mau. Ini soal kondisi, atau soal prioritas yang saya abaikan.

Al-Qur’an memberi arah yang jernih. Daging dan darah tidak sampai kepada Allah. Yang sampai adalah ketakwaan. Pesannya sederhana. Kurban bukan soal tampilan. Bukan soal besar kecilnya hewan. Ini soal isi hati. Soal niat yang jujur. Soal keberanian untuk memberi, saat kita sendiri masih merasa butuh.

Di sini kita sering terjebak. Kita menunggu hati siap. Tapi tidak pernah melatihnya. Kita menunggu rezeki cukup. Tapi tidak pernah merencanakan. Padahal untuk hal lain, kita rapi. Kita punya target. Kita punya cicilan. Kita disiplin membayar. Tapi untuk kurban, kita menunggu sisa. Dan sisa itu jarang ada.

Nabi memberi peringatan yang tegas. Siapa yang mampu tapi tidak berkurban, kehilangan makna kedekatan ibadah. Ini bukan ancaman. Ini cermin. Kita diajak jujur. Kurban bukan ibadah pinggiran. Ini tanda iman yang berani. Berani keluar dari diri sendiri. Berani memberi saat kita bisa saja menahan.

Jika dilihat dari keuangan, masalahnya jelas. Kita tidak membuat pos kurban. Kita punya pos makan. Pos cicilan. Pos hiburan. Tapi tidak ada pos ibadah yang terencana. Akibatnya kurban selalu tertunda. Bukan karena tidak ada uang. Tapi karena tidak disiapkan sejak awal.

Padahal hitungannya sederhana. Harga kambing bisa dibagi dua belas bulan. Jumlahnya menjadi ringan. Bahkan jika dihitung harian, sangat kecil. Sering lebih kecil dari pengeluaran yang tidak kita sadari. Di sini terlihat jelas. Ini bukan soal penghasilan. Ini soal pilihan.

Al-Qur’an mengingatkan lagi. Kita tidak akan mencapai kebaikan sebelum memberi dari yang kita cintai. Ini bukan hanya pesan spiritual. Ini juga pesan sosial. Harta harus bergerak. Tidak boleh berhenti pada satu orang. Saat kita memberi, kehidupan menjadi lebih seimbang.

Bayangkan satu kampung berkurban bersama. Daging tersebar merata. Anak-anak merasakan gizi yang layak. Peternak lokal tersenyum. Uang berputar di lingkungan sendiri. Warga berkumpul. Mereka bekerja bersama. Mereka kembali saling mengenal. Kurban menjadi jembatan yang lama hilang.

Namun semua itu butuh langkah kecil. Tidak perlu menunggu sempurna. Mulai saja dulu. Sisihkan sedikit. Lakukan rutin. Niatkan sejak awal. Disiplin menjaganya. Dari sini jalan akan terbuka. Keyakinan akan tumbuh.Pada akhirnya, kurban bukan tentang hewan. Ini tentang diri kita. Apa yang kita lepaskan. Apa yang kita pertahankan. Dan apa yang sebenarnya kita cintai. Saat kita berani berkurban, yang hilang bukan harta. Tapi alasan lama yang selama ini kita simpan.

Oleh : Dr. Mulyawan Safwandy Nugraha
(Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi) 

Tinggalkan Balasan