Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Setiap tahun ribuan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memasuki dunia industri melalui program Praktik Kerja Industri (Prakerin). Program ini dirancang agar peserta didik memiliki pengalaman kerja nyata sebelum lulus. Ukuran keberhasilannya sering kali sederhana. Siswa mampu mengoperasikan mesin, memahami prosedur kerja, memenuhi target produksi, dan memperoleh nilai baik dari pembimbing industri.
Namun, apakah tujuan pendidikan vokasi berhenti sampai di sana?
Pertanyaan ini menjadi penting ketika dunia kerja menghadapi persoalan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar kekurangan tenaga terampil. Berbagai perusahaan justru mengeluhkan lemahnya integritas, kedisiplinan, tanggung jawab, kejujuran, etika komunikasi, dan komitmen kerja para tenaga muda. Artinya, persoalan terbesar bukan lagi kekurangan kompetensi teknis, melainkan kekurangan karakter.
Temuan tersebut memperoleh penegasan melalui penelitian yang dilakukan oleh Khoirunnisa bersama Mulyawan Safwandy Nugraha mengenai implementasi nilai-nilai Pendidikan Agama Islam dalam kegiatan Prakerin di SMK Pembangunan Cibadak Kabupaten Sukabumi.
Penelitian ini menunjukkan bahwa Prakerin tidak hanya menjadi ruang belajar keterampilan kerja, tetapi juga dapat menjadi ruang pembentukan karakter religius apabila nilai-nilai Pendidikan Agama Islam diintegrasikan secara nyata selama peserta didik berada di lingkungan industri. Inilah sudut pandang yang menurut saya sering luput dari pembahasan.
Selama ini pendidikan vokasi lebih banyak berbicara mengenai link and match antara sekolah dan industri. Kurikulum diperbaiki agar sesuai kebutuhan pasar kerja. Peralatan praktik diperbarui mengikuti perkembangan teknologi. Sertifikasi kompetensi terus diperluas agar lulusan lebih siap bersaing.
Semua itu penting. Namun, dunia kerja sesungguhnya tidak hanya membutuhkan orang yang mampu bekerja. Dunia kerja membutuhkan orang yang dapat dipercaya.
Seorang karyawan yang jujur lebih berharga daripada seorang operator yang sangat mahir tetapi sering memanipulasi laporan. Seorang teknisi yang disiplin lebih dibutuhkan daripada pekerja yang memiliki kemampuan tinggi tetapi sering mengabaikan aturan keselamatan kerja. Seorang staf yang bertanggung jawab jauh lebih bernilai dibandingkan pekerja yang pintar tetapi tidak memiliki integritas.
Karakter seperti inilah yang justru menjadi fokus utama penelitian Khoirunnisa.
Penelitian tersebut menemukan bahwa implementasi nilai aqidah membangun kesadaran bahwa pekerjaan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh, jujur, sabar, dan bertanggung jawab. Nilai ibadah diwujudkan melalui kebiasaan menjaga salat, berdoa sebelum dan sesudah bekerja, serta tetap berusaha menjalankan kewajiban agama selama Prakerin.
Sementara itu, nilai akhlak tercermin dalam sikap disiplin, sopan santun, kerja sama, kejujuran, tanggung jawab, dan etika ketika berinteraksi dengan pembimbing maupun karyawan di tempat kerja. Temuan ini membawa pesan yang jauh lebih luas daripada sekadar pendidikan agama.
Ia menunjukkan bahwa Pendidikan Agama Islam sebenarnya sedang membangun fondasi profesionalisme.
Selama ini profesionalisme sering dipahami sebagai kemampuan teknis. Padahal profesionalisme juga mencakup kemampuan menjaga amanah, menghormati waktu, menaati aturan, bekerja secara jujur, dan menyelesaikan tugas dengan penuh tanggung jawab. Semua nilai tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran Islam.
Karena itu, pembelajaran agama tidak boleh berhenti di ruang kelas. Justru ketika siswa memasuki dunia industri, seluruh nilai yang dipelajari selama bertahun-tahun diuji dalam situasi nyata. Di sanalah mereka belajar memilih antara kejujuran atau manipulasi. Antara disiplin atau kelalaian. Antara tanggung jawab atau mencari alasan.
Prakerin menjadi laboratorium karakter yang sesungguhnya
Penelitian ini juga mengingatkan bahwa pembentukan karakter tidak mungkin dibebankan kepada sekolah saja. Keberhasilan implementasi nilai-nilai Pendidikan Agama Islam dipengaruhi oleh dukungan sekolah, guru, orang tua, teman sebaya, dan pihak industri.
Sebaliknya, jadwal kerja yang padat, kelelahan fisik, keterbatasan fasilitas ibadah, lingkungan pergaulan, serta lemahnya pengawasan sekolah menjadi faktor yang dapat menghambat proses tersebut. Artinya, pendidikan karakter adalah tanggung jawab bersama.
Dunia industri pun memiliki peran pendidikan yang tidak kalah penting dibandingkan sekolah. Ketika perusahaan memberikan ruang bagi peserta Prakerin untuk melaksanakan ibadah, menghargai kejujuran, membangun budaya disiplin, dan memberi teladan etika kerja, sesungguhnya perusahaan sedang ikut membentuk generasi profesional yang berkarakter.
Dalam jangka panjang, manfaatnya kembali kepada industri itu sendiri. Perusahaan tidak hanya memperoleh calon tenaga kerja yang kompeten, tetapi juga calon pekerja yang memiliki integritas. Nilai ekonomi dan nilai moral bertemu dalam satu titik yang sama.
Inilah alasan mengapa Prakerin tidak boleh dipahami sekadar sebagai program magang.
Prakerin adalah proses pendidikan.Ia menjadi jembatan antara teori di sekolah dengan realitas kehidupan. Di sanalah peserta didik belajar bahwa bekerja bukan hanya soal mencari penghasilan, melainkan juga menjalankan amanah sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT.
Jika paradigma ini menjadi budaya di seluruh SMK Indonesia, maka lulusan pendidikan vokasi tidak hanya dikenal karena keterampilannya, tetapi juga karena kejujurannya, kedisiplinannya, tanggung jawabnya, dan akhlaknya.
Indonesia tentu membutuhkan tenaga kerja yang cerdas. Namun, Indonesia jauh lebih membutuhkan tenaga kerja yang dapat dipercaya. Dan karakter seperti itu tidak lahir secara kebetulan. Ia dibentuk melalui pendidikan yang mampu menyatukan kompetensi, etika, dan nilai-nilai agama dalam pengalaman kerja yang nyata. Sebagaimana ditunjukkan oleh penelitian Khoirunnisa bersama Mulyawan Safwandy Nugraha, Prakerin dapat menjadi salah satu ruang terbaik untuk membangun generasi profesional yang berkarakter religius.











