Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Menjelang Idul Fitri, suasana selalu sama. Jalanan padat, pusat belanja penuh, paket kiriman datang silih berganti. Orang berburu baju baru, kue kering, dan tiket mudik. Aktivitas ekonomi bergerak cepat. Semua tampak hidup. Namun di balik itu, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan dengan jujur. Apakah kita benar-benar kembali suci, atau hanya merayakan seremoni tahunan?
Ramadan baru saja kita lewati. Selama sebulan, kita dilatih menahan diri. Lapar dan haus bukan tujuan. Itu hanya sarana. Tujuan utamanya adalah membentuk kesadaran. Al-Qur’an menyebutnya sebagai jalan menuju takwa. Artinya jelas. Ada perubahan dalam diri. Ada kendali atas nafsu. Ada kepekaan terhadap sesama.
Idul Fitri seharusnya menjadi hasil dari proses itu. Bukan sekadar penanda waktu. Kata “fitri” merujuk pada kondisi asal manusia. Bersih. Jujur. Lurus. Maka kembali fitri berarti kembali pada integritas. Bukan hanya bebas dari dosa secara simbolik, tetapi juga berubah dalam sikap dan perilaku.
Di titik ini, kita perlu jujur melihat realitas. Banyak praktik lebaran justru bergerak ke arah sebaliknya. Konsumsi meningkat tajam. Orang merasa harus tampil baru. Baju baru, sepatu baru, bahkan gawai baru. Tidak sedikit yang memaksakan diri. Ada yang berutang demi terlihat pantas saat hari raya.
Tradisi mudik juga mengalami pergeseran makna. Mudik seharusnya menjadi ruang rindu dan silaturahmi. Namun dalam banyak kasus, ia berubah menjadi ajang pembuktian sosial. Siapa yang lebih berhasil. Siapa yang lebih mapan. Percakapan di ruang keluarga sering kali tidak lagi hangat, tetapi sarat perbandingan.
Budaya saling memaafkan juga perlu kita cermati. Ucapan “mohon maaf lahir batin” bertebaran di mana-mana. Disampaikan langsung, juga lewat pesan singkat. Namun sering berhenti pada kata-kata. Tidak diikuti dengan perubahan sikap. Orang tetap mudah marah. Tetap menyimpan iri. Tetap mengulang kesalahan yang sama.
Media sosial memperkuat kecenderungan ini. Foto keluarga, hidangan mewah, dan suasana rumah dipamerkan. Tidak salah. Namun ketika itu menjadi ajang menunjukkan status, makna spiritual pelan-pelan memudar. Lebaran berubah menjadi panggung citra diri.
Di sinilah terjadi jarak antara nilai dan praktik. Ramadan mengajarkan pengendalian diri. Lebaran justru sering diisi dengan pelampiasan. Ramadan melatih empati. Lebaran kadang mempertegas kesenjangan. Ramadan membentuk keheningan batin. Lebaran justru riuh tanpa refleksi.
Jika kondisi ini terus berulang, maka Idul Fitri kehilangan daya ubahnya. Ia menjadi ritual rutin. Datang setiap tahun. Dirayakan dengan cara yang sama. Lalu dilupakan tanpa bekas dalam kehidupan sehari-hari. Padahal esensi ibadah dalam Islam selalu mengarah pada perubahan akhlak.
Dampaknya terasa nyata. Relasi sosial tetap rapuh. Konflik keluarga tidak selesai, hanya ditutup sementara. Dalam ruang publik, perilaku tidak banyak berubah. Korupsi, manipulasi, dan ketidakjujuran tetap terjadi. Seolah Ramadan tidak meninggalkan jejak.
Kita perlu mengembalikan arah. Idul Fitri harus dipahami sebagai titik evaluasi. Bukan garis akhir. Ukurannya sederhana. Apakah kita lebih sabar dari sebelum Ramadan. Apakah kita lebih jujur. Apakah kita lebih peduli pada orang lain.
Tradisi saling memaafkan perlu dimaknai ulang. Maaf bukan sekadar ucapan. Ia adalah komitmen. Berani mengakui kesalahan. Berani memperbaiki diri. Berani menghentikan sikap yang menyakiti orang lain. Tanpa itu, maaf hanya menjadi formalitas sosial.
Perayaan juga perlu disederhanakan. Bukan berarti menghilangkan kebahagiaan. Namun menempatkan kebahagiaan pada hal yang tepat. Kebersamaan, kehangatan keluarga, dan ketulusan berbagi. Bukan pada tampilan luar.
Peran keluarga sangat penting. Orang tua bisa menanamkan makna lebaran sejak awal. Tidak menekankan pada apa yang dibeli, tetapi pada apa yang berubah dalam diri. Masjid juga punya peran. Tidak hanya ramai saat Ramadan, tetapi tetap hidup setelahnya. Menjadi pusat pembinaan, bukan sekadar tempat ritual.
Lembaga pendidikan dapat memperkuat ini. Nilai Ramadan tidak berhenti sebagai materi pelajaran. Ia harus menjadi budaya. Kejujuran, disiplin, dan empati perlu terus dilatih dalam keseharian.
Pada akhirnya, pertanyaan di awal kembali pada diri kita masing-masing. Idul Fitri bisa menjadi momentum kembali suci. Namun bisa juga berhenti sebagai seremoni. Pilihannya tidak ditentukan oleh suasana di luar, tetapi oleh kesadaran di dalam.
Kemenangan sejati tidak terlihat dari apa yang kita kenakan saat lebaran. Ia terlihat dari apa yang berubah setelahnya.
Riwayat Penulis :
Penulis adalah Direktur Research and Literacy Institute (RLI), Dosen UIN SGD Bandung, Dosen luar biasa pada Institut KH. Ahmad Sanusi Sukabumii, Institut Al-Masthuriyah Sukabumi dan STAI Kharisma Sukabumi, serta saat ini diamanahi sebagai Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi MUI Kota Sukabumi, Wakil Ketua PCNU Kota Sukabumi, dan Ketua Forum Ukhuwah Warga Ciaul Kota Sukabumi.







