Dr. Mulyawan Safwandy Nugraha M. Pd
Beliau adalah Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Ketua Forum Ukhuwah Islamiyah Warga Ciaul (FUWarci) Kota Sukabumi dan Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi.
Ada tiga hari setelah Idul Adha. Namanya hari tasyrik. Tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Banyak orang menganggapnya sebagai sisa perayaan. Padahal justru di situlah inti rasa diuji. Kita baru saja bertemu kurban. Kita baru saja menyebut nama Allah dalam takbir yang panjang. Tapi setelah itu, apakah kita kembali biasa saja. Atau kita mau tinggal sedikit lebih lama dalam kesadaran itu. Hari tasyrik datang seperti jeda. Ia memberi ruang agar kita tidak tergesa meninggalkan makna.
Rasulullah ï·º menyebut hari ini sebagai hari makan, minum, dan berdzikir. Sederhana jika dibaca. Tapi tidak sederhana jika dijalani. Kita diajak menikmati hidup tanpa terputus dari Allah. Biasanya kita memisahkan keduanya. Saat ibadah, kita khusyuk. Saat makan, kita lalai. Hari tasyrik meruntuhkan sekat itu. Makan bisa jadi ibadah. Minum bisa jadi dzikir. Asal kita hadir dengan sadar. Asal kita tidak lupa siapa yang memberi.
Saya sering melihat diri sendiri. Ketika lapar, doa terasa dekat. Ketika kenyang, pikiran mulai pergi ke mana-mana. Ini manusiawi. Tapi tidak boleh dibiarkan. Hari tasyrik seperti cermin. Ia menunjukkan betapa mudahnya kita berubah. Dari hamba menjadi penguasa kecil atas diri sendiri. Kita merasa punya. Kita merasa berhak. Padahal semua hanya titipan. Kesadaran ini tidak datang dari teori. Ia tumbuh dari latihan. Dan hari tasyrik adalah latihannya.
Kita makan di hari itu. Tapi bukan sekadar mengunyah. Kita belajar membaca nikmat. Dari nasi yang sederhana. Dari daging kurban yang dibagi. Dari air yang menenangkan tenggorokan. Semua membawa pesan yang sama. Bahwa hidup ini disokong oleh kasih sayang Tuhan. Kita tidak pernah benar-benar mandiri. Kita hanya sering lupa bahwa kita bergantung. Hari tasyrik mengajak kita mengingat lagi. Dengan cara yang lembut. Tanpa ceramah panjang.
Di sela semua itu, kita bertakbir. Allahu Akbar. Kalimat yang pendek. Tapi mengguncang jika dihayati. Ia menata ulang ukuran dalam hidup kita. Bahwa yang besar bukan jabatan. Bukan harta. Bukan gengsi. Tapi Allah. Takbir itu seperti kompas. Ia mengembalikan arah yang sering melenceng. Dulu para sahabat menghidupkan hari tasyrik dengan gema takbir di mana-mana. Bukan untuk suara. Tapi untuk jiwa.

Hari tasyrik juga tentang berbagi. Daging kurban tidak berhenti di penyembelihan. Ia berjalan ke rumah-rumah. Mengetuk pintu yang mungkin jarang diketuk. Di situ ada pertemuan yang sunyi. Antara yang memberi dan yang menerima. Tapi sebenarnya keduanya sama. Sama-sama menerima. Yang satu menerima kesempatan. Yang lain menerima perhatian. Dalam momen itu, kita belajar bahwa rezeki bukan hanya soal apa yang kita pegang. Tapi juga apa yang kita salurkan.
Saya membayangkan seorang anak kecil. Ia memegang daging kurban dengan mata berbinar. Mungkin itu pengalaman langka baginya. Tapi lebih dari itu, ia sedang belajar sesuatu. Bahwa ada orang lain yang peduli. Bahwa hidup tidak sekeras yang ia kira. Pengalaman seperti ini tidak bisa diganti dengan teori. Ia menempel dalam ingatan. Ia tumbuh menjadi rasa percaya. Dan dari rasa percaya itu, lahir harapan.
Di sisi lain, kita yang merasa cukup justru sedang diuji. Apakah kita benar-benar cukup. Atau hanya merasa cukup. Hari tasyrik mengingatkan bahwa cukup bukan angka. Cukup adalah kemampuan berbagi. Ketika kita memberi dan tidak merasa berkurang, di situlah cukup mulai tumbuh. Tapi jika kita terus merasa kurang, mungkin yang kurang bukan harta. Tapi keluasan hati.
Rasulullah ï·º melarang puasa di hari ini. Ini menarik. Karena biasanya ibadah identik dengan menahan. Tapi kali ini, kita diminta menikmati. Seakan ada pesan yang halus. Bahwa mensyukuri nikmat juga ibadah. Bahwa bahagia itu tidak bertentangan dengan iman. Asal kita tidak lupa arah. Asal kita tidak tenggelam dalam kenikmatan.
Bagi yang berhaji, hari tasyrik diisi dengan melontar jumrah. Sebuah simbol yang sangat dalam. Melempar batu ke arah setan. Tapi sebenarnya yang dilempar adalah kecenderungan dalam diri. Kita yang tidak berhaji pun punya jumrah masing-masing. Ego yang sulit diturunkan. Keinginan yang tidak pernah selesai. Hari tasyrik memberi isyarat. Bahwa perjuangan itu tidak pernah berhenti.
Akhirnya, tiga hari ini bukan tambahan. Ia adalah penyempurna. Setelah kurban, kita tidak langsung kembali ke rutinitas. Kita diajak tinggal sejenak. Mengunyah makna. Meneguhkan rasa. Agar kurban tidak berhenti di penyembelihan. Tapi hidup dalam keseharian. Dalam cara kita makan. Dalam cara kita berbagi. Dalam cara kita mengingat Allah.











