EdukasiHumaniora

Nabi Sudah Terakhir, Mengapa Pejabat Masih Merasa Paling Benar?

17
×

Nabi Sudah Terakhir, Mengapa Pejabat Masih Merasa Paling Benar?

Sebarkan artikel ini
Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ada satu kalimat Nabi Muhammad Saw. yang sangat pendek, tetapi kalau direnungkan bisa membuat banyak orang yang sedang duduk di kursi kekuasaan agak gelisah:

وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي
“Sesungguhnya tidak ada nabi setelahku.”

Kalimat ini seharusnya membuat kita tenang sekaligus waspada. Tenang, karena urusan kenabian sudah selesai. Tidak ada lagi orang yang tiba-tiba datang membawa kartu nama bertuliskan “Nabi Baru”. Tidak perlu ada seleksi administrasi, fit and proper test, asesmen kompetensi, apalagi rapat pleno untuk menentukan siapa nabi berikutnya.

Semuanya sudah selesai. Tetapi justru setelah kenabian selesai, manusia memperoleh pekerjaan yang jauh lebih berat: mengurus dunia tanpa merasa dirinya nabi. Ini yang kadang menjadi masalah. Sebab ada orang yang baru memperoleh jabatan tiga bulan sudah berbicara seolah-olah pendapatnya turun bersama wahyu. Kalau rapat, semua harus setuju. Kalau ada yang berbeda pendapat, dianggap tidak loyal. Kalau ada yang bertanya, dianggap melawan. Kalau ada yang mengkritik, dicurigai punya agenda.

Padahal, mohon maaf, jabatan itu bukan wahyu.Surat keputusan juga bukan Al-Qur’an. Stempel bukan mukjizat.Dan tanda tangan di atas kop surat tidak otomatis membuat seseorang menjadi maksum.

Rasulullah Saw. bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ، كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي، وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ.
قَالُوا: فَمَا تَأْمُرُنَا؟
قَالَ: فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ، وَأَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ، فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ.

Dari Abu Hurairah radhiyallah anhu, ia berkata : bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:
“Dahulu Bani Israil diurus oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, ia digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada nabi setelahku. Dan akan ada para khalifah setelahku, dan jumlah mereka akan banyak.”
Para sahabat bertanya, “Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?”
Beliau shalallahu alaihi wa salam menjawab:
“Tunaikanlah baiat kepada yang pertama, kemudian yang pertama; berikanlah kepada mereka hak mereka. Sesungguhnya Allah Swt akan meminta pertanggung jawaban mereka atas apa yang telah Dia amanahkan kepada mereka.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim, muttafaqun ‘alaih)

Perhatikan ujung hadis itu. Bukan “pujilah mereka”. Bukan “buatkan baliho besar-besar”. Bukan “undang media setiap kali meresmikan sesuatu”. Tetapi: فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ “Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka atas apa yang telah Dia amanahkan kepada mereka.”

Nah Ini kalimat yang sepertinya sederhana, tetapi bisa membuat meja birokrasi mendadak terasa panas. Sebab dalam dunia manusia, jabatan sering dirayakan ketika datang, tetapi jarang direnungkan ketika dipertanggungjawabkan. Ketika seseorang dilantik, karangan bunga datang. Ketika seseorang pensiun, karangan bunga datang lagi.

Yang tidak pernah kelihatan adalah “karangan pertanggungjawaban”. Padahal bisa jadi yang paling penting justru itu. Kita hidup dalam zaman ketika pencitraan kadang lebih cepat daripada pelayanan. Kamera datang, semua tersenyum. Spanduk dipasang, semua tampak bahagia. Acara dimulai, tepuk tangan terdengar. Dokumentasi selesai, unggahan media sosial segera dibuat.

Lalu masyarakat pulang dan bertanya pelan-pelan: “Setelah foto bersama tadi, apa yang berubah?” Pertanyaan itu kadang lebih tajam daripada kritik.

Sebab birokrasi memiliki satu kemampuan luar biasa: membuat sesuatu terlihat sangat sibuk tanpa selalu terlihat apa hasilnya, Rapat bisa berlangsung tiga jam, Notulen bisa enam halaman, Daftar hadir bisa penuh, Konsumsi bisa habis, Foto bisa puluhan. Tetapi masalahnya masih duduk manis di tempat semula.

Barangkali masalahnya bukan karena kita kekurangan rapat. Kita mungkin kekurangan keberanian untuk mengatakan bahwa setelah rapat, memang harus ada pekerjaan yang selesai.

Dalam konteks ini, ayat Al-Qur’an tentang Nabi Muhammad Saw. sebagai penutup para nabi menjadi semakin menarik:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah Swt dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu.”(QS. Al-Ahzab : 40)

Ayat ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah khatam an-nabiyyin, penutup para nabi. Artinya, setelah Rasulullah Saw., kita tidak mempunyai nabi untuk dijadikan tempat “mengoreksi” perilaku kita setiap kali kita bingung.

Tidak ada nabi yang akan datang ke kantor kita lalu berkata: “Saudara, program ini terlalu banyak seremoni dan terlalu sedikit substansi.” Tidak ada nabi yang akan masuk ruang rapat dan mengatakan: “Mohon maaf, yang Anda sebut koordinasi itu sebenarnya hanya saling melempar tanggung jawab.” Tidak ada pula nabi yang akan datang ke podium dan berkata: “Bapak-Ibu, berhenti membuat kegiatan hanya untuk difoto.”

Maka tugas itu sekarang berada pada kesadaran manusia. Ironisnya, kita kadang lebih suka mendengar pujian daripada nasihat. Kalau bawahan berkata, “Bapak hebat,” kita senang. Kalau berkata, “Bapak keliru,” kita mulai mengernyitkan dahi. Kalau ada yang mengatakan, “Program ini perlu dievaluasi,” kita bertanya: “Siapa yang menyuruh?”

Akhirnya kritik tidak lagi dibaca sebagai cermin, tetapi dianggap sebagai serangan. Padahal cermin memang tidak pernah bermaksud menyerang. Ia hanya menunjukkan wajah kita apa adanya. Yang sering membuat kita marah kepada cermin bukan kacanya, tetapi wajah sendiri.

Di sinilah hadis Nabi menjadi sangat relevan. Pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban. Maka semakin tinggi jabatan seseorang, semakin panjang pula daftar pertanyaannya. Jabatan bukan mahkota. Ia lebih mirip utang. Bedanya, utang kepada manusia mungkin bisa lunas dengan cicilan. Utang amanah kepada Allah tidak selesai hanya karena masa jabatan habis.

Maka jangan terlalu cepat merasa hebat hanya karena duduk di kursi yang tinggi. Kursi tinggi tidak membuat manusia lebih dekat kepada Tuhan. Kadang malah membuatnya sulit mendengar suara orang kecil. Mungkin karena itu Rasulullah Saw mengingatkan agar hak pemimpin diberikan, tetapi pada saat yang sama pemimpin juga memikul kewajiban besar.

Ada hak – Ada kewajiban, Ada kekuasaan – Ada pertanggungjawaban, Jangan hanya mengambil bagian “hak”-nya lalu lupa membaca bagian “pertanggungjawaban”-nya. Ini penyakit klasik, Ketika membicarakan jabatan, kita hafal fasilitasnya, Ketika membicarakan amanah, kita mendadak lupa, Ketika membicarakan kewenangan, suara kita lantang, Ketika membicarakan tanggung jawab, mikrofon tiba-tiba rusak.

Lucunya lagi, sebagian kita begitu rajin membangun citra seolah-olah semua berjalan sempurna, padahal di belakang panggung orang-orang sedang sibuk mencari siapa yang harus disalahkan.

Kalau berhasil, “ini hasil kepemimpinan saya. ”Kalau gagal, “ini karena bawahan kurang mendukung, ”Kalau mendapat penghargaan, fotonya satu halaman, Kalau mendapat kritik, orang lain yang diminta menjelaskan.

Begitulah kadang manusia, Maka hadis ini sesungguhnya bukan hanya bicara tentang pemimpin, Ia juga berbicara tentang kita yang suatu hari menjadi pemimpin, meskipun hanya dalam lingkup kecil.Guru memimpin kelas.

Orangtua memimpin keluarga, Ketua memimpin organisasi, Kepala memimpin lembaga, Pejabat memimpin birokrasi, Bahkan admin grup WhatsApp memimpin anggota yang setiap hari bertengkar soal jadwal rapat.

Semua ada amanahnya, Dan semua akan ditanya Mungkin kelak di hadapan Allah tidak ada pertanyaan: “Berapa kali namamu disebut dalam sambutan?” Tidak ada pertanyaan: “Berapa banyak baliho yang memakai fotomu?” Tidak ada pula:“Berapa ribu pengikut media sosialmu?”

Yang ada adalah pertanyaan yang jauh lebih sederhana dan justru jauh lebih berat: “Apa yang kamu lakukan terhadap amanah yang Aku berikan?” Pada titik itu, semua pencitraan selesai.

Jas dilepas, Pangkat tidak dibawa, Kursi dikembalikan, Stempel ditinggalkan, Bahkan nama yang dulu ditulis besar-besar di papan kantor pun akhirnya diganti, Yang tinggal hanyalah amal.

Jadi, Nabi Muhammad Saw. memang nabi terakhir, Syukurlah.Sebab kalau setiap pergantian pejabat kita masih berharap akan ada nabi baru yang datang membenahi semuanya, kita tidak pernah belajar menjadi dewasa. Kenabian sudah ditutup. Tetapi pintu amanah justru terbuka lebar.

Dan mungkin tugas terbesar kita hari ini bukan mencari manusia yang kelihatan paling suci untuk memimpin, melainkan memastikan bahwa ketika kita sendiri diberi sedikit kekuasaan, kita tidak berubah menjadi manusia yang merasa paling benar. Sebab jabatan itu aneh. Ketika datang, kita merasa mendapat kehormatan. Ketika sedang dijalani, kita merasa memiliki kewenangan. Ketika akan berakhir, kita merasa kehilangan, Padahal dari awal, ia cuma titipan.

Dan semua titipan pada akhirnya akan dikembalikan. Semoga ketika saat itu tiba, kita tidak membawa pulang hanya foto, sertifikat penghargaan, dan album dokumentasi. Semoga ada sesuatu yang lebih penting yang ikut pulang bersama kita: amal baik karena pernah memegang amanah dengan jujur.Sebab Nabi sudah terakhir.Yang belum selesai adalah pekerjaan kita menjadi

manusia.Wallahu ‘alamu

Tinggalkan Balasan

Media Sukabumi