BeritaEdukasi

Diskusi Pengawas KCD V Sukabumi Soroti Krisis Wawasan Kebangsaan Gen Z

24
×

Diskusi Pengawas KCD V Sukabumi Soroti Krisis Wawasan Kebangsaan Gen Z

Sebarkan artikel ini

MEDIASUKABUMI — Puluhan pengawas SMA, SMK, dan SLB se-Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah V Kota/Kabupaten Sukabumi mengikuti diskusi penguatan wawasan kebangsaan dan karakter siswa di era digital. Kegiatan ini berlangsung di Gedung KCD Pendidikan Wilayah V Sukabumi, Senen (21/9/2026).

Diskusi yang digelar oleh KCD Pendidikan Wilayah V tersebut menghadirkan penggiat pendidikan dari Rumah Literasi Merah Putih, Aam Abdul Salam, S.Ag., sebagai narasumber.

Koordinator Pengawas SMA/SMK/SLB KCD Pendidikan Wilayah V, Iwan Setiawan, M.A., membuka diskusi dengan menegaskan bahwa wawasan kebangsaan tidak boleh luntur di tengah gempuran teknologi.

Menurutnya, di era digital, pengawas memiliki tanggung jawab yang lebih besar—tidak hanya mengawasi mutu pembelajaran, tetapi juga menjadi penjaga moral siswa.

Iwan menyebut perkembangan teknologi yang pesat telah mengubah cara berpikir dan bergaul generasi muda, terutama Generasi Z. Generasi Z dinilai menjadikan internet sebagai bagian utama kehidupan mereka, di mana seluruh informasi, hiburan, hingga pergaulan didapatkan dari media sosial.

Kondisi ini membuat mereka rentan terpapar budaya asing yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan norma bangsa. Dampaknya mulai terlihat dari menguatnya sikap individualistis, menurunnya interaksi sosial tatap muka, hingga krisis adab dan dekadensi moral.

“Pengawas sebagai perpanjangan tangan pemerintah memiliki peran strategis dalam mengarahkan transformasi digital ke arah positif. Kebijakan yang mendukung penguatan ketahanan digital, perlindungan data pribadi, serta regulasi terhadap konten negatif di internet perlu terus diperkuat,” ungkap Iwan.

Ia menambahkan, regulasi yang jelas dan sistem pengawasan yang ketat dapat menghindarkan generasi muda dari dampak negatif dunia digital yang berpotensi merusak karakter.

“Jika kita tidak hadir, wawasan kebangsaan akan tergerus. Ini ancaman serius bagi ketahanan nasional,” tegas Iwan.

Sementara itu, penggiat Rumah Literasi Merah Putih, Aam Abdul Salam, S.Ag., menyampaikan bahwa teknologi sejatinya memberikan akses luas terhadap pendidikan, pekerjaan digital, dan inovasi. Namun tanpa literasi yang tepat, teknologi justru berisiko merusak karakter.

“Salah satu dampak negatif yang paling menonjol adalah meningkatnya kecenderungan hidup individualistis, penurunan interaksi sosial secara langsung, serta rendahnya kesadaran terhadap nilai-nilai kebangsaan. Fenomena ini, jika tidak diantisipasi, dapat melemahkan ketahanan nasional di masa depan,” kata Aam.

Oleh karena itu, Aam mendorong penguatan literasi digital yang komprehensif—tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis, tetapi juga etika dan tanggung jawab.

“Anak muda harus diajarkan memilah informasi, melawan hoaks, dan memahami dampak sosial dari setiap unggahan di media digital,” ujarnya.

Aam juga menekankan pentingnya peran keluarga dan sekolah sebagai benteng utama. Pendidikan karakter berbasis Pancasila harus terintegrasi secara hidup dalam kurikulum, bukan sekadar pelengkap.

Selain di lingkungan sekolah, pembentukan karakter perlu diperkuat melalui kegiatan sosial dan kebangsaan, seperti pelatihan bela negara, pramuka, serta komunitas literasi kebangsaan yang dinilai efektif menumbuhkan rasa cinta tanah air.

Di akhir pemaparannya, ia mengingatkan bahwa peran pengawas dan guru tidak berhenti di gerbang sekolah. Ketika kembali ke masyarakat, mereka harus menjadi tokoh panutan.

“Pengawas harus menjadi figur yang didengar masyarakat dalam urusan pembentukan karakter anak, serta mampu bersinergi dengan orang tua,” pungkas Aam.

Tinggalkan Balasan

Media Sukabumi