EdukasiHumaniora

Rezeki Halal: Jangan Sampai Doa Kita Tersandung di Meja Makan

35
×

Rezeki Halal: Jangan Sampai Doa Kita Tersandung di Meja Makan

Sebarkan artikel ini
Dr. Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ada orang yang kalau ditanya tentang rezeki, jawabannya sederhana: “Yang penting banyak.”

Saya kira ini jawaban yang sangat manusiawi. Sebab kalau rezeki sedikit, kita sering gelisah. Kalau banyak, kita malah bertanya bagaimana caranya supaya lebih banyak lagi. Begitulah manusia. Sudah diberi satu pintu, sibuk mencari kunci untuk membuka sepuluh pintu lainnya.

Tetapi Islam rupanya tidak hanya bertanya: berapa banyak rezekimu? Islam justru mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: dari mana rezekimu datang?

Sebab, ada rezeki yang membuat perut kenyang tetapi hati tenang. Ada pula rezeki yang membuat rekening gemuk, tetapi tidur harus ditemani rasa takut. Yang pertama mungkin tidak selalu banyak. Yang kedua mungkin terlihat menggiurkan, tetapi ada sesuatu yang diam-diam hilang: keberkahan.

Rasulullah ﷺ pernah menyampaikan sebuah hadis yang sangat dalam:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ:«أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ:﴿يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ﴾وَقَالَ:﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ﴾ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ، أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟»رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Wahai manusia! Sesungguhnya Allah Swt itu Maha baik dan Dia tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah Swt memerintahkan orang-orang beriman dengan apa yang Dia perintahkan kepada para Rasul.

Allah Swt berfirman: ‘Wahai para Rasul! Makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’

Dan Allah Swt juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian. ’Kemudian beliau menyebutkan tentang seorang laki-laki yang melakukan perjalanan panjang, rambutnya kusut dan tubuhnya berdebu. Ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa, ‘Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku!’ Namun makanan yang dimakannya haram, minuman yang diminumnya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari sesuatu yang haram. Maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim).

Hadis ini menarik karena Rasulullah tidak sedang berbicara tentang orang yang malas berdoa. Justru sebaliknya. Orang itu sedang dalam perjalanan panjang, tubuhnya kusut dan berdebu. Tangannya diangkat ke langit. Ia memanggil Allah berkali-kali: Ya Rabb, Ya Rabb.

Kalau ukuran kesungguhan doa hanya air mata, mungkin orang ini sudah memenuhi syarat. Tetapi ada persoalan yang lebih dalam: apa yang ia makan haram, apa yang ia minum haram, pakaiannya haram, bahkan tubuhnya tumbuh dari sesuatu yang haram.

Di sini kita seperti diajak bercermin.

Kadang kita sangat rajin memperbaiki kualitas doa, tetapi lupa memperbaiki kualitas sumber penghasilan. Kita sibuk mencari tempat terbaik untuk berdoa, sementara sumber uang yang digunakan untuk membiayai kehidupan justru tidak pernah diperiksa.

Kita bisa sangat khusyuk membaca doa setelah salat, tetapi pada saat yang sama mungkin masih menikmati uang yang diperoleh dengan cara yang tidak patut. Kita ingin anak-anak menjadi saleh, tetapi nafkah yang masuk ke rumah tidak selalu kita tanyakan asal-usulnya.

Agaknya, inilah salah satu ironi kehidupan modern: kita ingin hasil yang suci dari proses yang belum tentu suci.

Padahal Al-Qur’an telah memberikan prinsip yang sangat jelas:

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

“Wahai para Rasul! Makanlah dari (makanan) yang baik-baik dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mu’minun : 51)

makanlah yang baik-baik dan kerjakanlah amal saleh.

Seolah-olah Al-Qur’an sedang mengatakan bahwa kehidupan spiritual tidak boleh dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kesalehan tidak berhenti di sajadah. Ia juga diuji di kantor, di pasar, di ruang rapat, di meja transaksi, bahkan ketika tidak ada orang lain yang melihat.

Allah juga berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah : 172)

Ayat ini juga mengingatkan kita bahwa rezeki bukan sekadar angka. Ada dimensi syukur di dalamnya. Rezeki yang halal mungkin tidak membuat seseorang menjadi orang terkaya di kampungnya. Tetapi ia membuat seseorang bisa makan dengan tenang, tidur tanpa terlalu banyak menyembunyikan cerita, dan menatap anak-anaknya tanpa merasa sedang mewariskan sesuatu yang buruk.

Karena itu, halal bukan hanya urusan makanan. Halal juga menyangkut cara memperoleh gaji, menjalankan usaha, menerima keuntungan, menggunakan jabatan, mengambil fasilitas, bahkan mengelola amanah.

Jangan terlalu sibuk menghitung pemasukan, sampai lupa menghitung sumbernya.

Uang memang bisa membeli makanan, tetapi tidak selalu bisa membeli ketenangan. Jabatan bisa membuka pintu, tetapi tidak selalu membuka pintu keberkahan. Harta bisa membuat rumah besar, tetapi belum tentu membuat penghuninya bahagia.

Maka barangkali sesekali kita perlu melakukan audit kecil terhadap diri sendiri. Bukan audit keuangan semata, tetapi audit kehalalan.

Tanyakan kepada diri sendiri: apakah nafkah yang saya bawa pulang benar-benar bersih? Apakah keuntungan yang saya dapatkan tidak merugikan orang lain? Apakah jabatan yang saya pegang tidak saya gunakan untuk kepentingan pribadi? Apakah ada hak orang lain yang masih terselip di antara harta yang saya anggap milik saya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini memang tidak selalu nyaman. Tetapi justru karena tidak nyaman, ia penting.

Kita tidak perlu menjadi miskin untuk menjadi saleh. Islam tidak mengajarkan kemiskinan sebagai ukuran kesucian. Yang diajarkan adalah qana’ah terhadap yang halal dan iffah—kemampuan menjaga diri—dari yang haram dan syubhat.

Sebab yang dicari seorang Muslim bukan sekadar rezeki yang banyak, melainkan rezeki yang tayyib: baik, bersih, dan membawa keberkahan.

Pada akhirnya, mungkin persoalannya bukan apakah Allah mendengar doa kita. Allah Maha Mendengar. Persoalannya adalah apakah kehidupan kita sedang menyediakan jalan yang layak bagi doa itu untuk sampai kepada jawaban.

Jangan sampai Tangan menengadah ke langit, kaki masih berjalan di rel yang salah.

Jangan sampai doa kita panjang, tetapi rezeki kita membuatnya tersandung di meja makan. Maka mari kita mulai dari hal yang sederhana. Hari ini, coba periksa kembali satu sumber penghasilan kita.

Besok, periksa satu transaksi yang selama ini kita anggap biasa. Kalau kita seorang pedagang, pastikan tidak ada timbangan yang dikurangi. Kalau kita bekerja di kantor, jangan mengambil sesuatu yang bukan hak kita hanya karena semua orang melakukannya. Kalau kita memegang jabatan, bedakan dengan jernih mana fasilitas dan mana kesempatan untuk memperkaya diri.

Kalau masih ada harta yang meragukan, jangan buru-buru berkata, “Ah, sedikit ini.” Sebab perkara besar sering kali masuk melalui celah yang kita anggap kecil.

Dan kalau kita menemukan sesuatu yang memang tidak halal, jangan berhenti pada rasa bersalah. Perbaiki. Kembalikan hak orang lain jika ada. Tinggalkan cara yang salah. Cari jalan yang lebih bersih, meskipun mungkin hasilnya tidak sebesar sebelumnya.

Tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk memulai.

Mulailah dengan satu rupiah yang kita pastikan halal. Satu transaksi yang kita jaga kejujurannya. Satu keuntungan yang kita tolak karena tahu bukan hak kita. Satu kebiasaan yang kita tinggalkan karena ingin membawa pulang nafkah yang lebih bersih.

Barangkali dari situlah keberkahan dimulai. Sebab rezeki halal bukan hanya tentang apa yang masuk ke piring kita, tetapi juga tentang ketenangan yang tinggal di rumah kita, kebaikan yang tumbuh dalam diri kita, dan doa-doa yang kita panjatkan dengan hati yang lebih ringan.

Mari mencari rezeki secukupnya dengan cara yang sebaik-baiknya. Jangan hanya bertanya, “Berapa yang saya dapat?” tetapi biasakan bertanya, “Apakah Allah ridha dengan cara saya mendapatkannya?”

Karena pada akhirnya, yang kita bawa pulang bukan sekadar uang. Kita membawa pulang jejak dari cara uang itu diperoleh.Dan semoga yang kita bawa pulang adalah rezeki yang halal, hati yang tenang, keluarga yang berkah, serta doa yang tidak lagi tersandung oleh apa yang kita makan.

Wallahu ‘alamu

Tinggalkan Balasan

Media Sukabumi